loading...

Sajak, Pembaca dan Penyair

Pembaca yang tercinta,
jangan bertanya
lahirnya sajak,
jawabnya pulang maklum
pada dirinya,
apabila ia berkata sesuatu padamu
seperti padaku juga,
sebagai karya kita bersama,
tapi yang selanjutnya
menjalani hidupnya sendiri
jadi akar dan roh bahasa umat manusia,
berkebangsaan, namun di atas bangsa.

Sajak bagi penyair, sama seperti anak
bukanlah milik Ibu yang melahirkannya -
(kata penyair Kahlil Gibran)

Sebelum lahir
ia Janin,
terbalut dalam Rahim Kehidupan,
terbungkus alam semesta
yang fana dan yang baka

dibenihi oleh kerinduan rohani
si penyair dan tuan sendiri,
pembaca yang budiman,

melolong dalam Kesepian
terkurung dalam Waktu dan Ruang,

bergema sebagai kata
tanpa aksara
terlukis sebagai aksara
tanpa kata
di bentangan langit jiwa
mata batin Manusia,
padat isyarat,
akar bahasa purba
manusia pertama.

Namun, pembaca yang budiman, lagi arif,
aku yang diminta memberi jawab,
aku terbanting kembali ke pangkal Tanya,
suara Sepi yang menyiksa atau
Citra yang membebaskan,
bila berhasil disajakkan,

sedang aku belum mampu menjawab
sedang aku hanya berkias-kias
- seperti pembaca lihat -
belum menjawab, bahkan mustahil!

Maafkan! Silakan kembali membaca
kalau perlu berulang-ulang - karena
sajak yang sebenarnya Sajak,
sekalipun memakai kata-kata sederhana,
sehingga terasa bisa ditulis
oleh siapa saja -
adalah
Puisi paling lugu
paling sederhana

paling jelas arti -
walau bukan untuk nalar biasa, boleh didekati
dengan telaah (karena bisa membantu)
asal terbatas kerangka dan kulitnya
karena intinya adalah urusan
tuan pembaca,
yang sambil membaca
membuatnya sempurna.

Namun, agar percakapan
jangan sampai berakhir buntu,
izinkan kutambahkan catatan:

Pada saat sajak lahir
seperti pada saat bayi keluar dari rahim Ibunya
(walau pengalaman Ibu-ibu, dengan derita
serta bahagianya, bagi kita tak terduga)

Saat itu, tapi terlebih
pada detik-detik yang mendahuluinya
penyair orang yang paling malang,
sekaligus paling bahagia,
pribadi utuh sekaligus
sekedar wahana
wadah
untuk Manusia tanpa Nama,
mengambang di atas danau batin
seperti janin dalam air rahim

siap menangkap bunyi,
tanpa kuping
siap menangkap isyarat,
tanpa mata

terbalut dalam zarrah dan gelombang

bergema samar

di balik gelak tawa
dan air mata manusia

seperti desah laut
di kulit Tiram.


"Puisi Sitor Situmorang"
PuisiSajak, Pembaca dan Penyair
Karya: Sitor Situmorang

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top