loading...

Semata Cahaya

Menit meniti malam, kau berbisik pelan "Tulis puisi untuk aku!" 
Lalu jemari puisi pun menari di cerlang cahaya 
Aku sungguh silau dan terpukau oleh kilau mata merindu
Pada telapak tangan kurasakan denyut hidup
Dan rembulan purnamakan doa-doa semesta.

Dalam gemilang bulan penuh cahaya
Jemari menggelinjang sendiri:
Menggelepar ditampar misteri Ilahi
Seperti baling-baling berputar
Sejarah kembali mendaur ulang ibadah hingga sajadah pun
Basah oleh kilau cahaya.

Setiap kali berkaca pada bening hati kurasa
Dinding-dinding hati bercahaya
Baling-baling iman bercahaya
Ranting-ranting doa bercahaya.
Aku tak kuasa berkata-kata
Tapi terasa lidahku cahaya
Bibirku cahaya. Mataku cahaya.
Pikirku cahaya. Rasaku cahaya.
Jiwaku cahaya. Dinding hatiku cahaya.
Keping rinduku cahaya. Lengking cintaku cahaya!

Ya, Allah pencipta bulan penuh cahaya
Akankah Kaupelihara lidah cahaya ini, bibir cahaya ini,
Mata cahaya ini, pikir cahaya ini, rasa cahaya ini
Jiwa cahaya ini?
Dari hari ke hari kususun batu-batu iman
Hingga dinding-dinding hatiku cahaya.
Dari detik ke menit kususun remah kangenku
Hingga keping rinduku cahaya.
Dari diri berlepotan dosa ini kupekikkan rasa cintaku
Hingga lengking asmaraku cahaya.

Di relung bulan penuh cahaya ini, ya Ilahi Robbi,
Aku saksikan ayat-ayat yang terpahat pada kitab bercahaya
Segala makrifat bercahaya
Segala isyarat bercahaya
Aku pun mandi cahaya
Dalam cahaya benderang kian tampak batin ini berjamur
Kalbu ini dilekati benalu.
Jasad ini berlepotan debu
Darah mengalirkan nafsu.

Bulan penuh cahaya
Membongkar kenyataan-kenyataan yang sangat menyakitkan:
Rinduku pada-Mu begitu mudah dipermainkan angin lalu
Cintaku pada-Mu serasa tak lahir dari rahim Iradat-Mu
Jiwa ini La Ilaha Ilallah fanafanafanafanafana terasa
Raga ini berlepotan noda.

Ya, Allah...
Jangan Kausiksa aku dengan cahaya benderang menyilaukan
Aku tak sanggup menyangga mata yang liar tak terkendali.
Aku tak sanggup menyangga lidah yang menyebar fitnah;
Aku tak sanggup mengolah alam pikir dan dzikir atas ridha-Mu
Rasa dan jiwa berhiaskan pengharapan semu
Sungguh, aku tersiksa oleh terang cahaya-Mu!

Cahaya benderang-Mu, ya Allah,
Telah mempermalukan aku.
Seperti Chairil Anwar, “ Aku hilang bentuk remuk”
“Aku mengembara di negeri asing”
Tapi sayang, “Aku tak bisa berpaling”

Ya, Allah, rasanya aku tak layak berfatwa
Seperti Rabiah Al-Adawiyah yang dengan sikap rendah hati,
Tulus dan tanpa pamrih dalam doanya meminta:
Jika aku berdoa mengharapkan terbukanya pintu sorga, ya Allah
Maka masukkanlah aku di liang neraka hingga neraka penuh oleh dosa-dosaku
dengan begitu orang-orang lain leluasa dapat masuk ke dalam sorga.”

Kini aku benar-benar menggelinjang sendiri
Sendiri dipanggang api cahaya-Mu
Abadi mendekap luka-luka ini.

2010
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiSemata Cahaya
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top