loading...

Sketsa tentang Kota Tercinta

Adakah tajuk yang lebih cantik dari namakau
jika segala orang menyebut keindahan dalam dirikau
dengan cara sungai yang mengalir di musim Desember
menggerinjang bagai darah muda digelorakan asmara
terus dan terus dan terus melampaui tahun-tahun
antara Dalem Bintang dan Burgmeester Coops.

Kayak kisah sahibul yang serba kebetulan
pernah kubuang diriku atas sukaku
dalam persetubuhan yang tulus dengan nyawakau
tanpa menghitung hari kapan birahikau pudar
seperti toh sekarang zaman segala menua
dan kau ikut kasihkan aku sumpek gerah macet
entah di Tamblong dukateuing di Banceuy.

Aku mimpikan jadi anak kecil lagi
bercelana-monyet di Ciumbuleuit yang bersih udarakau
bertelanjang-kaki di Cikapundung yang bening airkau
meluncur becak di Cipaganti yang teduh pohonankau
tapi kau pun tau dalam nadikau tiada lagi janji
seperti kala mahkotakau berjudul Parijs van Java
Oui, je sais, it y a longtemps, n'est-ce pas?

Mau kutanya di mana Situ Aksan
sebab aku tersesat di Jamika—tak kaujawab
mau kutanya di mana JPK Naripan
tempat aku dulu bermain drama
sebab aku tersesat di Braga—tak kaujawab
barangkali juga di mana Dago Thee Huis
tempat aku melihatkau seperti kunang-kunang
besok pun kaujawab menjadi restoran Cina
yang berjajar baso capcay fuyunghay kuluyuk babi.

Kemarin, cintaku Bandung, kemarin
dari masa kemegahan ex undis sol
met zijn vulkanen rond om
takkan kembali hari ini besok apa lusa
maka kutinggalkan perjalanan panineungan ini
sebab pertanyaan yang tak kaujawab
diam-diam menjadi bagian kesukaanku
sebagai segala orang di abad elektronik
pernah menjadi musafir mabuk
yang mengembara atas maunya
antara paradoks lampau dengan paradoks berikut
sampai datang menghampiri hari berhenti
kerna persoalan arti kehidupan
hanya mengasyikkan kuliah filsafat
sementara kata-kata lebih banyak
timbulkan perang daripada damai.

Jika nafasku besok harus berhenti
kerna rumus tak kuasanya aku bersaing
dengan Tuhan yang kusebut nama-Nya saban hari
mengingat hadiah-Nya akan nisymath khayyim
biar kupilih namakau untuk tempatku istirahat
menyatukan dagingku dengan bumikau
yang lama kupinjam dalam ilham dan kesenangan.

Kaulah cintaku salah satu yang memberiku adab
maka kunyanyikan asmarandana ini barang sebaris
cinta tidak pernah melihat kekurangan.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiSketsa tentang Kota Tercinta
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top