Oktober 2018
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam Terang di Jakarta

Bulan berlayar, hatiku hambar
Malam begini malam berbisa
Karena aku bukan di tempatnya
Dan rasa dada terbakar

Bulan terang di Jakarta
Sedang hati jauh menyisih
Mencari ibu dan kekasih
Di pagi hijau terlontar menemu duka

Di sini beginilah aku
Tidak punya pangkalan
Buat menambat pilu

Terdiam, berjalan, menghilang
Tanpa menemu hakekat
Sedang perhitungan sudah berbilang

1954
"Puisi: Malam Terang di Jakarta"
Puisi: Malam Terang di Jakarta
Karya: Sobron Aidit

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Lama 1 Bait
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pembicaraan

(I)
Di mana berakhir pembicaraan? Di ruang
dalam atau jauh di larut malam atau
waktu duduk belunjur menanti api amti di tepi tungku.
Apakah tanda pembicaraan? Puntung
rokok yang belum dihisap atau sisa kopi di cangkir atau
suara tamu terakhir yang meninggalkan ambang pintu.
Apakah hasil pembicaraan? Pertengkaran
mulut atau bual sombong sekadar membenarkan perbuatan atau
omong kosong mengisi waktu tak menentu.
Ah, baik diam dan merasakan keramahan
pada tangan yang menjabat dan mata merindu.
Dalam keheningan detik waktu adalah pilu yang
menggores dalam kalbu.

(II)
Kau harus memberi lagi
sebuah cermin dari kaca
di mana aku bisa melihat muka
atau bawa aku ke tepi kolam di kebun belakang
atau cukup matahari
yang menjatuhkan bayang hitamku di atas pasir
kau lantas berpaling dan bilang:
kita berdua di halaman.
Sungguh, aku membutuhkan kawan
pada subuh hari
dan melalui kabut
menyambut tangan:
jangan takut!
atau suara
yang meyakinkan diri
aku tak sendiri.

(III)
Kita berhenti di pinggir danau
dan membasuh luka-luka
- pisau belatimu menggores kulit dada -
Melihat kau berkerumuk
seperti memandang bayangku sendiri:
Mengapa kita di sini?
Besok kita bangkit lagi berkelahi
Ketika terban hari
aku memeluk dan mencium di ubun
Beri aku ampun, beri aku ampun
Kau menangis tersedu
Angin teduh sejak pagi
Angin dari hutan cendana

(IV)
Berdiri di balik dinding
kau menanti
tapi tak perawan lagi
tapi sebagai bidadari
bersayap
Aku bertiarap dengan tubuh luka
dari berkelahi. Mukamu tua.
Kau menyambut tanganku dan berkata:
- Kita telah banyak melihat dan mengalami,
Lewat dosa hanya kita bisa dewasa -
Dan kauantar aku ke kamar penganten
dengan hiasan bunga di kelambu
dan tilam biru bau kenanga
Kita capek dan bergulingan
sehingga lupa penyesalan
Hari mekar dan bercahaya:
Yang ada hanya sorga. Neraka
adalah rasa pahit di mulut
waktu bangun pagi.

(V)
Kita membayangkannya serupa
seperti yang pernah dialami.
Seperti potret, hitam-putih:
ini pusat kota, itu gunung
dan di atas itu langit yang sama,
dengan meganya. Gambar
kenangan yang dibawa di kantong
yang setiap waktu dikeluarkan
dan dipandangi lama: dulu
aku pernah lewat lorong itu
bersepeda, - hari panas -
dengan Sita membonceng di belakang.
Kehidupan begitu susah tetapi senang.
Dan ada pula potret keluarga
bersama isteri dan mertua
dan Sita duduk di pangkuan.
Gambar lama ditempelkan hati-hati
di halaman album kenangan.
Jangan koyak! Aku bisa gila
terbangun dari mimpi. Di kamar baca
dinding yang menghadang makin dingin
dan ngeri.

Februari, 1967
"Puisi: Pembicaraan"
Puisi: Pembicaraan
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Daftar Kumpulan Lagu Julia Michaels
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam Berkah

Bulan berkah pecah.
Di malam ke dua puluh tiga,
angin membuka cakrawala.
Purnama di pagi hari. 
Memanggil sepi
aku mengambang di awang-awang.

"Puisi: Malam Berkah"
PuisiMalam Berkah
Karya: Beno Siang Pamungkas

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Wisky yang Puitis
(: buat Mas Timur SS yang baik & Mas Agus Wasit yang hebat)

Seorang penyair, mengirim hujan
bertanya tentang kemarau yang merantau

Tak ada pertanda yang bisa kau baca
dari koran pagi tadi

Seorang teman, menunggu kabar
dari secangkir kopi
dan hidupnya yang pahit

Di langit
kau tulis puisi cinta
yang sengit

Di dalam sebotol wisky
kapal-kapal kumpeni
karam

Di gelapnya hati
kau peram dendam
yang manis.

Semarang, 31 Oktober 2013
"Puisi: Wisky yang Puitis"
Puisi: Wisky yang Puitis
Karya: Beno Siang Pamungkas

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Remaja
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Stasion

Adakah sorga seperti stasion ini
tempat kereta lelah berhenti
dengan tulang besi-besi bersilang
dengan muka penumpang gilap berkeringat
dan debu arang mengendap
Adakah gerimis itu di jendela
dan puntung rokok mengepul
Dan berita politik dari koran
dengan inflasi, kelaparan dan bunuh diri.
Nabi,
aku terlalu sayang kepada petualangan ini
di mana hati kembali bocah lagi
orang asing menjadi sobat
dan gadis alim di sudut
menjadi iseng karena resah berharap.
Adakah di sorga kasih dan derita ini
dengan senang sebentar menjelang.
Nabi, aku ingin masuk sorga.

"Puisi: Stasion"
Puisi: Stasion
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mega

Dari sela dadanya
mengalir mega
dan puncak gunung
merenungi lembah
di bawah hutan cemara
kepalaku yang lelah
kurebahkan dekat kabut pagi:
aku ingin berhenti — tanpa berkata
ia biarkan aku minum dari teteknya.

"Puisi: Mega"
Puisi: Mega
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Sahabat Jadi Cinta Singkat
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tanpa Sedu

Tak ada berita dari radio atau koran
Hati robek dalam kesunyian
Penjual budak menghantamkan rotan ke punggung hitam
darah meleleh
semua berlaku
tanpa sedu

*
Setiap melihat kita menghadap:
- meja, kota, cahaya
di kaca garis bidang memantulkan muka

Kali ini tak ada yang dihadap

Yang dilihat hanya ruang tak berhuni
dan dinding kamar hilang batas

*
Begitu samar seperti orang ketiga
Dia, yang datang tak menyapa

Kapan lagi bisa berjabatan
dan sating lupa logat bicara
sebab kita pernah berkenalan, entah di mana
Tak mengapa: kita sudah cinta pada wajah dan suara

*
Tak ada yang tahu
Burung hitam lepas dari kalbu
(Burung malam dengan matanya nyalang)
Kuda sembrani yang menanti
merindukan pacarnya
Kukunya merah disaput gincu
Tak ada saksi

"Puisi: Tanpa Sedu"
Puisi: Tanpa Sedu
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca jua: Daftar Kumpulan Lagu Baru Liam Payne
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Garuda

Suntikkan air sempana
di dada kiri
(di mana kaulakukan setiap kali)

Selagi sempat
sayapku terkulai kubawa melompat
di atas api

Mataku hangus
angin yang tak pernah tua:
kebakaran ini akan berapa lama lagi? 

"Puisi: Garuda"
Puisi: Garuda
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jarak

Bapak di sorga.
Biar kita jaga jarak
ini antara kau dan aku
Kau hilang dalam keputihan ufuk
dan aku tersuruk di hutan buta.
Hiburku hanya burung di dahan
dan jauh ke lembah
gerau pasar di dusun.
Aku tahu keriuhan ini
hanya sekali terdengar
sesudah itu padam segala suara
dan aku memburu ke pintu rumah.

Bapak di sorga
biarlah kita jaga jarak ini
sebab aku ini manusia mual
Sekali kau tampak telanjang di hutan
Aku akan berteriak seperti Yahudi:
“Salib!”
Dan kau akan tinggal sebungkah
lumpur lekat di kayu.

"Puisi: Jarak"
Puisi: Jarak
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Judul Lagu Alice Merton
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dunia Kini Tidak Peka

Tak ada gunanya bunuh diri
memang
dunia kini tidak peka

Sehari lamanya
orang menyayangkan nasibmu
dan melemparkan kesalahan:
kepada binimu
yang selalu bilang kau tak becus cari duit
kepada anakmu
yang malu bapanya hanya buruh kecil
kepada majikanmu
yang tidak menaikkan upah kerja

Tapi hanya sehari:
lantas binimu mulai menjelekkan kamu lagi
sebagai laki tak bertanggungjawab
lantas anakmu di buku rapor menghapuskan namamu
yang mencemarkan kehormatan keluarga
lantas majikanmu bernapas lega
tidak perlu membayar gaji kepada satu tenaga

Kuburmu di pinggir kampung
tinggal terlantar
sebab tak ada yang perduli
siapa kamu dulunya

Bunuh dirimu sia-sia
memang
dunia kini tidak peka.

"Puisi: Dunia Kini Tidak Peka"
Puisi: Dunia Kini Tidak Peka
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Daftar Kumpulan Lagu Terbaik Shae
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kiu-kiu

Mulai tiga kartu
kita bisa berseteru
juga menggertak.

Nasib terbaca
di wajah masing-masing

Ketika kartu keempat dibagi
segalanya dipertaruhkan

hidup terasa lembam.

Semarang, 25 Mei 2010
"Puisi: Kiu-kiu"
Puisi: Kiu-kiu
Karya: Beno Siang Pamungkas

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi tentang Pagi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sepasang Mata yang Berkabar

Mataku. Batu yang jatuh
ke lubuk mabuk
Dipeluk dingin
hening merayap tebing

Menadah senyap dasar
dari situ aku ingin bergemuruh
berkabar
mengaliri jejak yang tertinggal

Bu, mataku boleh tak pulang
ke liangnya
tapi airnya yang leleh
jadi penyejuk hatimu
penawar luka agar tak dalam

Mataku. Kembar sepasang
direnggut arus menderas
dimabuk peluk
memecah diam

Bu, engkau ada di mataku
walau sekadar bayang di kulit air.

Denpasar, 1995
"Puisi: Sepasang Mata yang Berkabar"
Puisi: Sepasang Mata yang Berkabar
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi tentang Lautan
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Memanggil Namamu, Ibu

Setiap debur rindu, aku memanggil namamu dengan gigil bahasa kalbu: Ibu
Bagaimana bisa aku, bagaimana bisa aku mengubur wajah cerah penuh gairah mencinta? Ibu,
Jika riak menjadi ombak dan ombak menggelombangkan rasa sayang
Kupanggil sepenuh sepenuh gigil hanya namamu. Saat sampan dan perahu melaju
Di tengah cuaca tak menentu engkaulah bandar, tempat nyaman bagai sampan
Bersandar sebab di matamu ada mercusuar berbinar.

Jalan terjal berliku adalah lekuk tubuh ibu yang mengajarkan kesabaran
Rindang pohon di sepanjang tulang mengingatkan hangat dekap di dadamu
Deru lalu lintas jalanan, rambu-rambu dan simpang
Lampu adalah nasihat yang selalu mengobarkan semangat berjihad.

Aku memanggil namamu, Ibu
Sebab waktu tak lelah mengasuh dan membasuh peluh
Aku memanggul namamu, Ibu
Sebab segala lagu, sebab segala lugu mengombak di bibirmu
Aku selalu memanggil dan memanggul namamu:
Ibu!

Jambi
17 Mei 2010
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiAku Memanggil Namamu, Ibu
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Makrifat Jumat

1/ Ana Nur, ada cahaya yang melumuri seluruh tubuh menjadi aura cinta. Ana Nur bermakna ada bersama cahaya, adanya bermula dari cahaya hingga dadanya penuh cahaya. Ia berada dan mengada hanya lantaran cahaya. Apakah kalian lihat cerlang mata cahayanya? Seperti juga Yessika yang suka mandi cahaya dan tak suka menantang bahaya, di dalam dadanya selalu bergetar perasan perasaan suka pada sesama, sepenuh cinta.

2/ Asal muasal manusia dari setetes air hina. Apakah dengan begitu mereka pantas dihina? Jika air hina itu menetes dari perasan cinta dan atas kehendak dan titah, apakah zarah mendebu yang melekati seluruh tubuh tak bisa disucikan dengan terang cahaya? Hanya di terang cahaya manusia bisa mengaca betapa debu waktu akan mengajarkan doa dan pengharapan, cinta dan pengabdian, usaha menumbuhkan rasa sayang sepanjang malam dan siang.

3/ Di dalam dada manusia terdapat jagad kecil, tempat jantung dan hati berdegup menyebut makna cahaya. Dada akan terasa hampa tanpa cahaya. Dada diancam bahaya bila di dalamnya tumbuh hutan lengkap dengan binatang buas yang saling terkam. Dada akan menghitam saat cahaya melindap. Sebaiknya dada apabila di dalamnya tumbuh taman bunga beraneka. Terasa ada keharuman, kelembutan, dan rasa sayang yang selalu berkembang.

14 Mei 2010
"Puisi: Makrifat Jumat"
PuisiMakrifat Jumat
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebelum Tumbang
(: kepada para teroris)

Tahukah, apa yang kupikirkan sebelum kutarik picu
tentu bukan surga atau neraka
atau aneka ragam bidadarinya
karena malam yang sempurna itu
tak seutuhnya seperti yang kita bayangkan.

Jujur saja
aku juga sempat gentar
gemetar
gamang malah bimbang
dan segala pertanyaan-pertanyaan besar itu
harus kujawab sendiri
sedangkan Tuhan
selalu di luar bayangan
jauh dan tak terjangkau.

Tapi sebagai anak wayang
harus kuteruskan lakon yang sudah terangkai ini
bahwa setiap pahlawan 
selalu membutuhkan sejumlah korban
dan setiap kemenangan
selalu perlu seorang pecundang
namun, perlu kau catat
meski takut
aku bukan pengecut
jadi mari kita selesaikan urusan ini
kita susuri jalan masing-masing.

Semarang, 17 September 2009
"Puisi: Sebelum Tumbang"
Puisi: Sebelum Tumbang
Karya: Beno Siang Pamungkas

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Ayah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Pingitan

Kau pandang gunung, gunung yang tinggi
hatimu murung, murung sekali
sebab menduga: hanya yang tegak mungkin didaki

Kupandang langit, langit yang jauh
hatiku ragu, ragu terlalu
sebab mengira: hanya yang dekat mungkin disentuh

maka kau pandanglah gunung
kupandangi langit
yang sama biru
dalam renung rindu
cinta dipingit.

Yogya, 2007
"Puisi: Lagu Pingitan"
Puisi: Lagu Pingitan
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Baca juga: Kumpulan Cerita Humor Remaja Bikin Ngakak
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Penjor depan Kantor Gubernur
(: mengukur jalan bersama D. Zawawi Imron)

Inilah pameran instalasi abad ini, bisikku padamu
tiba-tiba di udara sama kita baca:
50 TAHUN INDONESIA CEMAS
disangga pohon-pohon hayat meranggas pucat
berjuta cahaya mengisyaratkan tanda-tanda bahaya.

Ya, Allah aku memahami benderang lampu ini
juga bebintang di langit wingit
sejarah bergulung-gulung dalam relung empedu pahit.

Ada yang bercahaya dalam hatiku: Engkau
berenang dalam cahaya benderang
hingga gemerlap dunia
membuka rahasianya
dan ternyata sungguh tiada makna.

"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiPenjor depan Kantor Gubernur
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kayon

Pohon purba
- di tengah hutan merah tua -
tahu akan makna dunia
maka diam
tak bicara.

"Puisi: Kayon"
Puisi: Kayon
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Contoh Puisi K.H A. Mustofa Bisri
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak bagi Anak Perawanku

Meski engkau lahir dari rahimku, anakku
Sungguh aku tak merasa memiliki masa depanmu
Saat kauminta mengecat hitam segala dinding kamarmu
Apakah aku memaksakan warna putih? Tidak
Pilihan warna ada pada dirimu
Tetapi pantas kaumengerti banyak warna dan angka
bagi masa depanmu.

Engkau telah lepas dari rahimku, kembali dalam asuhan
tangan kekuasaan; aku gelisah saat engkau banyak diam
menyukai warna legam; namun aku mengerti saat kaukatakan
"Di dalam legam aku melihat cahaya, Ibu"

Tahukah wahai anakku? Di dalam penjara yang remang
kejahatan bersimaharaja lela; tumbuh dan diasuh oleh tangan
kegelapan; jangan engkau penjara jiwamu dalam kelam
bujuk-rayunya tak pernah kesepian dan engkau harus tetap berjalan
meraih masa depan gemerlapan.

"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiSajak bagi Anak Perawanku
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pesan Adam

Saat kejadian:
Adam sendiri di bawah pohon kuldi
jakunnya naik-turun sendiri
mengunyah sepi
lalu "Kun"
Hawa menemani
merajut kesetiaan purbani.

Monyet-monyet bergelantungan di dahan
berkembang biak melahirkan Darwin
mereka berkawan dan kawin
lahirlah evolusi sejarah
menghilangnya ekor demi ekor
melupa dalil dan dogma.

:
Ada cinta di mesjid
ada sapa di gereja
ada makna di vihara
ada kata di pundi-pundi 
jadilah puisi.

2010
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiPesan Adam
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kemana Arah Angin

Karena dia masih kuat,kita harus dekat
lihat aku, sowan berkali-kali tidak apa-apa
rotan meliuk-liuk lembut alot
tahu kau, kita harus lentur
tak terpatahkan
biar dia jauh kita tetap ingin lengket
teruskan puja-sanjung biar dia teler.
------------------------------------

Tampaknya keterusan
bablas masuk orbit lama
ini bukan lagi lentur
tapi samasekali ngawur
mencoret sejarah maju
kembali ke zaman lama
lebih gila dari yang lalu
bisa bisa orang akan makan orang
lentur bukanlah ikut ke mana arah angin
filsafat pohon Aru
samasekali tidak berlaku
kalau kau terus, kau akan terputus
dan kami jalan menurut cara kami
biar tersaring-tapis demi reformasi.

6 Maret 1999
"Puisi: Kemana Arah Angin"
Puisi: Kemana Arah Angin
Karya: Sobron Aidit

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi 4 Bait dengan Majas
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kata

Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa.

"Puisi: Kata"
Puisi: Kata
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Joko Pinurbo Terbaru
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Meditasi Rawa Aopa

Di keluasan rawa Aopa, terhampar kehidupan puspa 
warna
Di bawah biru Watumohai, akankah hidup satu warna?
Wahai, kudengar suara satwa, jeritan lintang 
pukang
Tapi juga kumandang nyanyian
Kusaksikan aneka flora, memburai
lepas dari akar
dan yang mekar, merangkai lambang hati kita
Teratai putih teratai merah
pancarkan keheningan
degup pesona:

O, betapa banyak yang kulihat, sebatas eforia
Sedikit yang dipinta, cukup untuk berhikmat manja
dengan jantung semesta. Hingga berdenyut hidup
dataran rendah paya-paya ini, o, warna-warni matahari!

Konawe-Yogya, 2016
"Puisi: Meditasi Rawa Aopa"
Puisi: Meditasi Rawa Aopa
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Kupu-kupu Terbaik
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Golongan Putih
(Cerita untuk Wanda)

Mengharapkan aku untuk memilih;
antara masuk ke dalam gua ular
atau masuk ke dalam gua harimau.

Aku tidak tau
harus memilih yang mana,
yang aku tau,
semua yang berhasil masuk,
tidak ada yang pernah keluar membawa nyawa.

Dan aku sangat heran,
tetap saja ada yang sangat ngotot
ingin masuk ke dalam sana;
padahal mereka jauh lebih tau,
banyak saudara-saudara mereka
yang mungkin sudah mati di dalam sana.

Tidak ada yang bisa keluar,
tidak hidup-hidup!

(Namun mereka memilih masuk.
Karena mereka pikir mereka kuat.
Karena mereka pikir salah satu dari mereka
pasti ada yang bisa keluar hidup-hidup.

Mereka masih memelihara
dan memupuk harap)

Jadi,
sebagai seorang yang hilang harap,
aku hanya bisa mengembalikan pilihan 
pada mereka
dan berdiri melihat dari luar pagar.

Dan memang,
jika tidak ada yang memilih masuk,
suatu saat, tetap saja, 
ular dan harimau
akan keluar dari gua 
untuk mencari mangsa.
Korbannya bisa jadi siapa saja,
situasi yang sangat parah,
hanya masalah waktu,
menunggu jatuh korban selanjutnya.

Tapi aku harus mempertanggungjawabkan pilihanku, harus:
jika aku memilih gua ular, sama saja
seperti aku menyuruh saudara-saudaraku
untuk mati dimakan ular,
- begitu juga sebaliknya.

Dengan atau tanpa aku memilih,
Saudara-saudaraku akan mati lagi.

(Mungkin kita harus berbaur
atau pura-pura menjadi ular,
lalu membunuh harimau)

Aku tidak tau
harus memilih yang mana,
aku hanya bisa menyarankan
sebaiknya kita pergi jauh-jauh
dari tempat biadab ini.

(Aku tidak bisa pergi,
karena kamu tidak mau pergi.

Kita terpaksa mencintai tempat ini,
karena kita lahir di sini,
dibesarkan di sini,
orang-orang yang kita cintai
ada di sini.

Karena jika kamu yang mati duluan,
aku yang akan menggali kubur untukmu.
Dan sungguh, jika aku yang mati duluan,
hanya kamu yang mungkin mau
menggali kubur untukku)

Dan jangan salah paham,
aku sangat bangga padamu, saudaraku,
karena kamu berani memilih,
berani mengambil risiko,
demi saudara-saudaramu.

Maka saudaraku, maafkan aku
jika aku mati tidak sempat memilih.
Maafkan aku
jika aku memilih tidak memilih.

Namun apapun pilihanmu,
- ular ataupun harimau,
aku mau mati bersamamu.

Lampaseh, Banda Aceh
Selasa, 30 Oktober 2018
"Puisi: Golongan Putih"
Puisi: Golongan Putih
Oleh: Arief Munandar

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Drama Penyaliban dalam Satu Adegan

- "Di sinilah aku bergantung
Domba hitam terbantai di tiang
Perempuan malang bersimbah debu
meratap. Merataplah sepatut seorang
ibu meratap kematian anak sulung
Tapi merataplah tanpa kegusaran terhadap
mereka yang menyeret aku dari lurung ke lurung
yang menombak dan memaku aku di tiang gantung
Manusia itu baik. Kelaliman hanya kesesatan
sesaat yang akan luluh dalam penyesalan.
Bagi nabi, pemikir dan penyair hanya ada satu jalan
untuk menghadapi kekejaman. Bagi kami tak ada senjata,
gigi, kuku atau pedang. Hanya penyerahan dan cinta
kepada manusia dan keyakinan akan kebenaran.
Jangan bimbang. Darahku yang berceceran
dari luka tubuhku akan mendekatkan mereka
kepada keinsafan: mereka telah membunuh sesama insan
yang juga mengenal gembira, rindu dan luka
Mereka akan berhenti mengancam, malahan akan mencampakkan diri

ke bumi karena menyadari kekejian budi
Ibu, maafkan mereka. Mereka tidak sadar
apa yang mereka perbuat. Tidakkah kau dengar
mereka berkeluh dan mundur ke kota dengan teriak
penyesalan"?

- Aduh anak
Aduh putera Bapak yang tunggal. Begitu banyak
pengorbanan yang dilakukan, begitu banyak sudah
bunuh diri buat keagungan martabat manusia.
Tapi penindasan
terus menindih dan punah keindahan mimpi
Lihatlah
Keluh mereka adalah untuk yang dilontarkan ke mukamu
Dan mundur mereka ke kota adalah untuk berpesta
menyambut kematian-Mu
- "Bunda, penglihatanmu kabur oleh pedih air mata"
- "Tidak, hanya hati-Mu yang lemah cinta manusia
Cinta Tuhan lebih kejam. Ia meruntuhkan alam lata".
- Demi Allah,
Berilah aku senjata. Beri aku gigi
dan kuku dan pedang untuk memerangi
kebengisan ini. Akan kugigit dan robek
perut jahanam dan penggal setiap kepala
yang tunduk ke bumi. Beri aku hidup lagi
serta pembalasan satu ini. Gusti!
1962
"Puisi: Drama Penyaliban dalam Satu Adegan"
Puisi: Drama Penyaliban dalam Satu Adegan
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi karya Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tanjung Priok

Tumbuhan lalang merebah melambai
berdesir pasir mengulum senyum
dan mengalun riak-riak pantai
sedang angin laut deras mendarat.

Nelayan dan bujang ini
hilang rasa kembara di hati
menetap pasti perasaan damai
dan rasa gundah menyemai

Ya, Halilah gadis pantai
menyemai di hati bujang risau
memagar erat manambat kalbu!

Ya, Halilah gadis Tanjung
Halilah gadis laut mengimbau
La ilah! Tumbuh di hati ini: bunga biru!

Jakarta, 1953
"Puisi: Tanjung Priok"
Puisi: Tanjung Priok
Karya: Sobron Aidit

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: kumpulan Puisi Pendek 2 Bait