Bisnis

header ads

Puisi: Aku Memanggil Namamu, Ibu

Aku Memanggil Namamu, Ibu

Setiap debur rindu, aku memanggil namamu dengan gigil bahasa kalbu: Ibu
Bagaimana bisa aku, bagaimana bisa aku mengubur wajah cerah penuh gairah mencinta? Ibu,
Jika riak menjadi ombak dan ombak menggelombangkan rasa sayang
Kupanggil sepenuh sepenuh gigil hanya namamu. Saat sampan dan perahu melaju
Di tengah cuaca tak menentu engkaulah bandar, tempat nyaman bagai sampan
Bersandar sebab di matamu ada mercusuar berbinar.

Jalan terjal berliku adalah lekuk tubuh ibu yang mengajarkan kesabaran
Rindang pohon di sepanjang tulang mengingatkan hangat dekap di dadamu
Deru lalu lintas jalanan, rambu-rambu dan simpang
Lampu adalah nasihat yang selalu mengobarkan semangat berjihad.

Aku memanggil namamu, Ibu
Sebab waktu tak lelah mengasuh dan membasuh peluh
Aku memanggul namamu, Ibu
Sebab segala lagu, sebab segala lugu mengombak di bibirmu
Aku selalu memanggil dan memanggul namamu:
Ibu!

Jambi
17 Mei 2010
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiAku Memanggil Namamu, Ibu
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Posting Komentar

0 Komentar