Puisi: Bait-bait Kepulauan Karya: Raudal Tanjung Banua
Bait-bait Kepulauan

Lewat tangan daratan
yang terulur ke laut
Kami memandang tanah seberang
bangsa-bangsa, aneka suku
membayang. Juga benua jauh
dan nasib yang disisihkan. Begitu larut

Kapal-kapal langsir
dalam kabut yang rawan - burung-burung
telah pulang
Tiang-tiang lapuk, patah,
dan kembali didirikan
jadi menara, jadi suar
penunjuk arah di lautan

Telah terbangun jalan air
antara kita
Mengapa tak menyapa?
Padahal hakikat selat bukanlah memisahkan
pulau-pulau
tapi menyatukan.

Begitu juga harkat bahasa
            pecahan-pecahan lokan dan manik-manik
                        di pantai. Membutuhkan pewadahan lebih dari sekedar
            hiasan, sekedar kiasan. Kami merangkainya
jadi bahasa lautan yang menggarami karang-karang
hingga dengan itu tak perlu senjata
dan meriam ditembakkan

Kami bosan mendengar letusan.

Sudah berabad-abad lengking
kemelaratan ini coba kami tanggalkan
bagi nasib leluhur, cukuplah
kami kini menatap ke depan

Memang, sejarah tak mungkin dihapus
lantaran itu kami selalu tegak membaca:
pantai yang tergerus. Kapal-kapal
mengerat. Satu-persatu pelabuhan tunduk,
pedalaman takluk - remuk-redam
dan terguncang
Demikianlah, sejarah telah tersimpan dan terbaca
Jalan air terbuka dan bahasa mewadah
Tapi letusan tak tercatat, mengapa masih terdengar
dengan wajah disurukkan?

Yogyakarta, 1999-2002
"Puisi: Bait-bait Kepulauan"
Puisi: Bait-bait Kepulauan
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Baca juga: Kumpulan Puisi Cinta Pendek
Loading...

Post A Comment:

0 comments: