Bandar Sepuluh

Bandar Sepuluh. Sepuluh bandar menghajarku
tanpa talam persembahan, aku gatih setiap daun yang tumbuh
aku kunyah-kunyah gurat-gurat peta silsilah
kuhamburkan sepanjang jalan kepulangan
“puah, balik kau mambang, pergi ke balik bukit barisan
ke pulau awuh ke katang-katang!”

Jadilah si tawar - si dingin pengusir orang halus sekalian jin,
pun penguasa bocor halus, menyingkirlah, menyingkir
agar terbaca silsilah, terbuka hijab sejarah
bandar yang sepuluh-sepuluh bandar menghajarku
di tepian hindia di pantai barat Sumatera
yang berabad lampus dipadamkan lampu-lampu
pedalaman lampau Minangkabaumu!

Dengan mantra tarian asyik lukah aku seru
sekalian yang di bukit dan di lurah, di mudik hulu
di koto-koto dan kuala. Kecil tak kuingat nama
besar sandang sendiri gelarnya, tak perlu dentang canang
dan tabuh larangan itu! Dengar, aku berkabar
mengulang apa yang tak pernah kauulang
menyebut apa yang takut kausebut;
aku lecut angkau si lukah gila
dengan cambuk kalam ekor belutku yang menggelepar liar
dalam bilah-bilah tajam tubuh busukmu.

Aku datang dari salido - bungo pasang dari mana emas bukan suasa
datang. Ditambang derak kincir siang-malam
matang di talam-talam bukan persembahan
tapi titah rajah pedas liur air raksa - bagai aur mengkhianati
ibu tebingnya
membawanya ke pasar-pasar dan istana, ke bandar-bandar
rebutan segala bangsa. Hingga surat dikarang-karang
perjanjian diteken di muka painan. Traktat dibuat
buat dilanggar. Telah kami ubah Andalas jadi emas
tapi raja dan istana membuatnya jadi perca
jadi kiasan kain hiasan.

Maka ditanam kapas di satu bandar agak ke selatan,
agar utuh satu saja benang kapas menyulam kain baju
kebesaran. Tapi apa yang kami dapat? Tak ada, kecuali karat
dan asin garam. Maka dari Ampalu dan hulu Langgai
sebuah pantun dimulai:

Bandar surantih lubuknya dalam
batang-kapas lubuk tempurung
kapal kami ibarat balam
sauh lepas lambung terkurung.

Hai, lukah gila! Jangan engkau beriba hati sebab hati pengiba
lambat lukanya. Pantun sangsai itu sesungguhnya
badai, songsonglah ia di teluk kasai
lepas bilah-bilah tengkulukmu
kibaskan kutuk busukmu

Sebuah permainan mesti dimulai (bukan rabab bukan randai)
inilah sandiwara batang-kapas penuh taruhan,
sepenuh cemas orang-orang Aceh dan VOC
terkecoh kawan dan lawan jadi pecundang!

Ayo, mengalir ke selatan ke ranah pesisir
menyisir tali rabab tiga helai, menghentak gendang
empat ketukan; tajam geseknya
jadi jerat burung-burung kuau
di lentik punggung bukit jaring punai
gemerincing gemanya menggiring engkau
bagai gajah rusa terluka di bukit sikai. Menurun lalu
kutandai lambung kapal besar di muara sungai air haji
dan punggasan. Kutemui orang-orang berbaju putih
melepas beban, melepas pelukan, “selamat tinggal.”
Tapi mereka akan pulang ke Bandar Sepuluh
si sungai tunu kita bertemu. Apa yang engkau bawa wahai
penakluk semananjung dan jazirah? Mereka bawa pesan Nabi
dan petuah orang suci bukan sebagai candu
dan roti. Tapi jangan sentuh lukah gilaku, jangan ganggu
asyik lukahku

Biarkan kami mabuk menari mengunyah gurat-gurat peta
daun silsilah dan terus menghamburkannya sebelum sampai
perjalanan pulangku: dari hulu lakitan dan pelangai gadang
telah dibangun kampung-kampung dan dibuka teratak
seperti damar rotan yang diturunkan - dilipatgandakan
tangan Tuhan
di pantai-pantai putih kambang, surantih dan amping parak

“Puah, telah jadi engaku bersuku-suku, sejak dahulu
sejak dari serambi alam sungai pagu
beranak-pinak membangun puak
dalam ranah Bandar Sepuluh - sepuluh bandar
manampar muka malumu!”

Kini guahlah canang, guguhlah tabuh
larangan itu...

Painan-Yogyakarta
2010-2011
"Puisi: Bandar Sepuluh"
PuisiBandar Sepuluh
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: