Cembengan

Cembengan. Temanten tebu
pahit-manis hidupmu.

Orang-orang dengan pakaian rombeng
mengarak kalian, sepasang tebu pilihan,
dari kebun segala hama, dari keluh-kesah segala bencana
Atas nama harapan dan nasib baik
kalian pun bernama: Nyai Manis-Kyai Respati

“O, hari baik yang kami punya, kabar baik bagi semua
Dengar, musim tanam cepat menjadi silam
di lengkung punggung kami yang segera tegak kembali
di musim giling dan suling ini!”

Mereka buka panggung gembira di arena pasar malam
Mereka buka panggung baju di arena pesta kerja
Mereka elukan sepasang pengantin
yang lewat membelah jalan desa

Sementara di atas kereta kuda
Nyai Manis dan Kyai Respati
siap menepati janji
bagi pengorbanan diri

Lihat, sisa daunnya sehelai-dua
melambai takzim dan gembira
karena sepasang tebu pengantin
akan dikawinkan
sang waktu: nasib yang ditahtakan
di atas mesin pabrik tua
untuk digiling pertama!

Lalu abu hitam dari putih tubuhnya
berhamburan ke angkasa
lalu deru cerobong dan mesin-mesin tua
memulai pesta semusim bagi para buruh
yang selalu percaya upacara temanten tebu
adalah berkah dan derita. Entah berapa musim pengantin lagi
membuahi nasib baik yang mereka pinta.

Yogyakarta, 2005-2006

Cembengan merupakan ritual tahunan menyambut musim giling dan suling tebu di pabrik gula Madukismo, Bantul, Yogyakarta.
"Puisi: Cembengan"
PuisiCembengan
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: