Di Tepian Batur

Di tepian Batur
memandang kelam
berlari menjaring cahaya
ikan-ikan membawa impian
sisik yang tak berkilau
ke dasar danau...
Aku merabamu, tubuh yang remuk
oleh risau
di rambutmu terjalin, mungkin
sebatang lilin akan leleh
membuat bintik lain pada ikan
yang bernafas insang busuk
- roh telah jumpalitan di sisi kelam
Kita hanya dapat memandang:
sisa asap belerang, perlahan
meramping dalam pandangan
percik dupa yang menghunjam
pohon tua
padam sebelum menyentuh akar
ribuan kunang-kunang telah lepas
berputar di langit Batur
gugur sebelum bintang
di rambutmu terurai, mungkin
sebuah kisah akan mengalir
seperti nyeri sungai
berlahar, menyisakan lahang batu
dari gunung, yang kau tabu,
menyimpan api!
Batu-batu itu kini diam di sisi kelam
melipat sisa api dari bumi sejatimu
di tepian Batur
aku menangis mengolah perasaan
sedang matamu mengiris urat leherku
yang membiru di tepi tungku
Jangan! Jangan tatap aku seperti itu;
melebihi pisau atau sembilu
mungkin aku memang tak akan mampu
memeluk tubuhmu yang remuk
menangkap kunang-kunang
jiwamu sebagai ribuan bintang
mengekalkan kilau impian
ikan-ikan di dasar danau...

Aku menangisimu, jiwa yang redam didera kelam

Dan di tanganku teracung, mungkin kisahmu abadi
membuat gelembung pada ari
jadi pertanda setiap insang yang bernafas...

Bali-Yogyakarta, 1998
"Puisi: Di Tepian Batur"
Puisi: Di Tepian Batur
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Contoh Puisi W.S. Rendra

Post A Comment:

0 comments: