Golongan Putih
(Cerita untuk Wanda)

Mengharapkan aku memilih:
Antara masuk ke dalam gua ular
Atau gua harimau.

Aku tidak tahu
Harus memilih yang mana
Yang aku tahu:
Semua yang pernah masuk
Tidak pernah keluar
Membawa nyawa.

Tidak ada
Tidak hidup-hidup!

(Namun mereka memilih masuk
Karena mereka pikir mereka harus
Mereka pikir salah satu dari mereka
Pasti ada yang bisa keluar hidup-hidup.

Mereka masih memelihara harap
Dan sebagai seorang yang hilang harap
Aku berdiri melihat dari luar pagar.)

Aku harus bertanggungjawab:
Jika aku memilih gua ular, sama saja
Seperti aku menyuruh saudara-saudaraku
Untuk mati dimakan ular
- Begitu juga sebaliknya.

Dengan atau tanpa aku memilih
Saudara-saudaraku akan mati lagi.

(Mungkin kita harus berbaur
Atau pura-pura menjadi ular
Lalu membunuh harimau)

Tapi kita terpaksa mencintai tempat ini
Karena kita lahir di sini, dibesarkan di sini
Orang-orang yang kita cintai ada di sini.

Karena jika kamu yang mati
Aku akan menggali kubur untukmu
Dan sungguh jika aku yang mati
Hanya kamu yang mungkin mau
Menggali kubur untukku.

Namun jangan salah paham
Aku sangat bangga padamu, saudaraku
Karena kamu berani memilih
Berani mengambil risiko
Demi saudara-saudaramu.

Maka saudaraku, maafkan aku
Jika aku mati tidak sempat memilih
- Jika aku memilih tidak memilih.

Namun apapun pilihanmu
- Ular ataupun harimau
Aku mati bersamamu.

Lampaseh, Banda Aceh
Selasa, 30 Oktober 2018
"Puisi: Golongan Putih"
Puisi: Golongan Putih
Oleh: Arief Munandar
Loading...

Post A Comment:

0 comments: