Gugusan

Gugusan bintang dan pulau
Tidak memberi bahasa pada bumi
Bintang tak teraba. Pulau sunyi

Kita membentang peta
Meneropong galaksi
dengan keyakinan yang kelewat berlebihan
akan bahasa sejati.

Kompas yang liar
Memberi arah ke bandar dan kota-kota tak bernama
Sementara di langit bintang-bintang seperti kabut menyisih
putih-kemilau; semacam kata yang baru
pertama kali dilahirkan, susah payah memasuki jagad
bahasa

Kita pun terpana. Di depan mata, eksotisme
tanah hitam; matahari yang terbenam
dengan kilau emas murni dan rempah-rempah
ke lambung kapal yang disorongkan...

Begitulah, kapal demi kapal
Sandar dan menyorongkan lambungnya yang lapar
ke bibir tanah hitam
Nyaris tanpa percakapan. Apalagi musyawarah
Kecuali seruan-seruan bergegas, membentuk perintah
dan bentakan-bentakan kasar hewaniah
Sementara di atas kapal, radio panggil menggigil
mengabarkan
perang telah pecah di ujung benua…

Gugusan bintang dan pulau
Tidak memberi bahasa sejati pada bumi
Sepanjang pelayaran kapal-kapal
Mengeruk emas murni dari gugusan pulau
Dan pesawat-pesawat ruang angkasa
Bermimpi merontokkan bintang!

Saat itulah, orang-orang sepanjang gugusan
Merangkai kerang dan lokan dan menempelkan
Ke dada mereka yang gosong dan terbakar
Seperti bintang bercahaya dalam kelam, kata-kata menyisih
Di ujung lidah mereka; lahir jagad bahasa baru
yang kutahu, melebihi kilau emas murni
atau mutiara biru...

Yogyakarta, 1998
"Puisi: Gugusan"
Puisi: Gugusan
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Indahnya Laut
Loading...

Post A Comment:

0 comments: