Jalan-jalan di Bumi
: Subagio Sastrowardoyo (1924-1995)

Jalan-jalan di bumi tidak membawa kita pergi
dari bumi, hanya menghantar ke dunia
sunyi dan kata-kata, di mana terlantar
mereka yang tak berdaya dan tak pasti makna berita:
            bumi atau duniakah yang kita cinta?

Bumi dan dunia apalah beda!
Bagai seorang sirkus peniti tali
kita tak tahu, jatuh ke kanan atau ke kiri
lebam di bumi, dan terluka
dunia memintanya kembali
maka ada barangkali: bumi ibu sejati,
menerima segala dengan kasih. Dan dunia
adalah sabda yang senantiasa meminta
kita tabu menyerah,
bangkit dan bangkit lagi
dalam adonan sepotong roti tawar
diterbangkan angin sakal waktu malam
tercelup sungai tohor dan kali dangkal.

Jalan-jalan melingkar ke pusat dunia
jalan-jalan bercabang mengkhianati dunia
jalan-jalan di bumi kabut di peta
sejak itu, bukan oksigen atau ozon
menyelimuti bumi kita
tapi kata-kata
di mana terlontar firman pertama
dan bangkit ia yang menderita: bumi atau duniakah
yang bakal lebih dulu musnah?

Yogyakarta, 2007
"Puisi: Jalan-jalan di Bumi"
PuisiJalan-jalan di Bumi
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: