Kabungka, Buton

Berbungkah-bungkah aspal ditambang
digiling, dihaluskan jadi tambah hitam
Menghampar di pelabuhan dan jalan-jalan
tapi tidak membawa siapa pun pergi
karena pelabuhan bukan lagi pintu
bagi onggokan nasib buruk siapa pun!

Dan jalan-jalan buntu, berantakan
tanpa batu dan aspal
Ironi yang membenam harapan
kembali ke perut bumi

Kusaksikan matahari terbit dan terbenam di sini
Tanpa alasan pasti
anak-anak Kabungka terus melintasi
lumpur dan semak-semak berduri
memasuki sekolah yang tak pernah
memasuki hidup mereka.

Seorang anak menyeringai
menggigit pahit-asam
jambu mete yang berguguran
bagai mengunyah buah derita
berabad-abad kekal di tanah kelahiran

percik getahnya beserta ingus yang meleleh
membuat bintik hitam di baju sekolah
jadi tambah kusam serupa peta jalur tambang
di sepanjang badan masa depan
orang-orang Kabungka

Aku pun menambangnya
Diam-diam, dengan tinta hitam air mata.

Buton-Yogya, 2010
"Puisi: Kabungka, Buton"
PuisiKabungka, Buton
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: