Puisi: Kenangan, Arah Segala Simpang Karya: Raudal Tanjung Banua
Kenangan, Arah Segala Simpang

Setiap kita punya kata dan peta
Suratan telapak tangan. Pernahkah kau baca
Di luar restu tukang ramal?

Aku membacanya dengan caraku sendiri
Di sepanjang jalan kesunyian. Kusaksikan
Begitu banyak simpang yang kubawa berlari
Dalam diri, hingga tak satu pun tersimpan
Untuk kujadikan tanda dan lambang
Agar terbaca semua orang.

Maka dengan sedih dan nyeri kukepalkan telapak tanganku ini
Mengacungnya ke langit, ke bintang-bintang, kuingin ia 
berputar
Dan berpendar, bagai globe, bola dunia, di keheningan 
puncak malam.

Begitulah ia terus berputar dengan sumbu sebelah lengan
Yang bersitahan dari penat, pusat segala lenggang
Sampai aku tersadar, rute masih panjang
Sedang bintang-bintang tak kunjung jadi rambu
Di tajam tikung jalan. Kiri-kanan

Nganga ngarai atau ujung jurang, apapun
Tanganku telah terbuka membentang sekalian salam
Kepada sesama seperjalanan. Juga sungai dan batu-batu
Kusentuh tanpa genggaman, hingga kau dan aku berlalu
Dalam sesenggol sentuhan ngilu, dalam sepenggal
Kenangan pilu. Sedang kenangan,

Kau tahu, kenangan adalah batu yang menjadi
Jantung jurang, adalah sungai yang menjadi
Jiwa ngarai, meski tak ada lagi bintang penerang
Di bentangan peta nasib telapak tanganku ini.

Tapi, di remang ujung jalan sebelum sempurna kelam
Kusaksikan sekalian simpang, berkilatan, ternyata mengarah
Ke satu tujuan: Kenangan!

Maka, kulenggangkan tanganku, kau langgengkanlah kata
Perpisahan, agar kenangan menjadi tanda dan lambang
Kekal terbaca di setiap simpang.

Yogyakarta, 2002-2003
"Puisi: Kenangan, Arah Segala Simpang"
Puisi: Kenangan, Arah Segala Simpang
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi tentang Laut

Post A Comment:

0 comments: