loading...

Mengabadikan Cinta

Dari tanah kembali ke remah. Begitulah risalah cinta yang tak lelah kulidahkan siang dan malam. Kugali tanah liat di puncak bukit, serupa musa di puncak tursina kutatah dan kubentuk lekuk misteri dalam puisi yang tak pernah jadi dan selalu sisakan nyeri: jerit 99 namamu menjadi belati menusuk ulu hati!

Dari remah kembali ke rumah cinta. Begitulah kisah pengembara melacak jejak mencinta. Kuciumi setiap jejak kaki sepanjang jalan tualang sebab setiap pergi adalah juga kembali dan setiap pulang adalah perjalanan menuju rumah keabadian. Rambu jalan dan tikungan, terminal dan pelabuhan selalu saja bergetar saat peluit kapal memberi isyarat merapat kusiapkan tali dan sekoci diri saat badai sore gemuruh sebelum kapal dan perahu berlabuh. Kupersiapkan janji perjumpaan untuk melunaskan impian camar.

Dari remah kembali ke rumah keabadian. Begitulah kisah pejalan sunyi menyisir pasir pantai, menghitung cangkang kerang, teripang, juga aneka bayang memungut remah istana pasir usai diporandakan lidah ombak, lalu jemari terus bergerak membangun istana yang baru. O, kekasihku, sampan dan perahu rindu terus saja menderu sepanjang waktu pergulatan!

23 Mei 2010
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiMengabadikan Cinta
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top