Merenungi Obituari Rembulan
(: kado ulang tahun dalam almanak yang pecah)

Arus sungai mengusung keranda rembulan ke huluan
puntung-puntung kata dan frasa berserak di atas tongkang
yang diayun gelombang. Biduk-biduk sayak
bersajak tentang tempoyak, riak dan ombak batanghari
di lapak-lapak pasar lopak yang sesak:
rembulan itu hanyut ke seberang lalu tersangkut 
di jaring-jaring nelayan.

Rembulan nyaris purnama
sungai memanen riak-riak isak sajak
di rerimbun semak seluwang, patin jambal
baung dan arwana merenangi arah arus batanghari
menembus cermin langit dengan kompas di sirip-siripnya
sawit pun tak lelah melepaskan cangkang-cangkangnya:
dan terasa ada yang luruh menjelang subuh.

Bayang rembulan menyusut saat mentari bangun pagi
balam, murai batu, dan pipit berkompangan
menyanyikan tradisi di dahan pohon-pohon tembesi
nelayan menjaring gerhana 
dan menyelam di palung paling dalam:
rembulan dan matahari adalah bola-bola bilyar
disodok lalu saling berbenturan
satu-demi-satu bola itu masuk lubang di akhir permainan.

Di ujung senja angso-angso kecilmu berenang di kedalaman airmata
sebelum pada akhirnya meregang di huluan
pedagang lemang di simpang mayang gamang 
memandang gerhana tanpa bintang-bintang
tempoyak dan cempedak berteriak serak:
beri aku sajak yang paling tuak!

Jambi, 25 Januari 2007
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiMerenungi Obituari Rembulan
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Loading...

Post A Comment:

0 comments: