Bisnis

header ads

Puisi: Pada Daun Gugur

Pada Daun Gugur

Cemas mencekam
ketika air mengalir
dari rambut kuyup.
Di kolam redup
air membenamkan tubuh
dalam kalut.
Air itu sebagian dari laut
yang merenggut angan
ke dalam keabadian, kesepian dan maut.

Ketakutan tidak bisa diajari
dari buku sekolah atau dari petuah orang tua.
Ketakutan dialami oleh dia yang terlantar
di pinggir kota tanpa ada yang menyapa.
Ketakutan adalah hak istimewa bagi dia
yang pernah dilanda hampa.
Ketakutan melekat pada dia yang
selalu bertanya: untuk apa aku ada.

Pada daun gugur satu
berulang proses perpisahan.
Nasib tak terelakkan
bagi dia yang mengikat kasih.
Tapi ah, kengerian itu yang dihadapi
dalam kekosongan. Tangis
atau senda tak mungkin mengatasi.

Dendam lama
terpahat dalam batu.
Tidak semua pengalaman
dikisahkan kepada bumi.
Lebih baik bisu
dan membiarkan sedih lewat
tanpa saksi.
Menghadapi tekateki
badan tergolek tak peduli.

Di balik paras muka
terkuak alam lain.
Daerah asing
yang petualang tak berani menapak.
Hutan begitu lebat
mudah menyesatkan langkah lelaki.
Bahkan air di danau lembah
di lidah terasa getir bertuba
Perempuan! Di ribaanmu
aku lekas akan mati.

"Puisi: Pada Daun Gugur"
Puisi: Pada Daun Gugur
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi dari Sanusi Pane

Posting Komentar

0 Komentar