Papiku

Dia sepanjang hari minum bir
bercita-cita membangun auditorium seni
yang seluruh lantai dan langit-langitnya berhiaskan batu akik
dan hanya mau menyembah Tuhan yang bisa memberi nomor togel.

Dia menganggap dirinya ilmuwan
bereksperimen memasukkan anak ayam ke dalam kaleng
sehingga bisa berjalan tegak seperti bebek
dan percaya kematian adalah perjalanan yang paling mengasyikkan
serta yakin tujuan hidup manusia bisa dirumuskan dalam satu kata.

Meski wajahnya selalu tegang
dan bicaranya selalu membentak
serta sentuhan tangannya kikuk dan kaku
aku tahu dia menyayangiku sepenuh hati
dengan caranya sendiri.

Tanpa terasa, seribu hari lebih dia telah pergi
kalau saja benar di sana masih ada kehidupan yang lain
aku membayangkan, dia tersenyum sendiri dan memandangku dengan bangga
di sela desir angin, sepertinya kudengar bisiknya yang lirih, entah kepada siapa
: batu di kepala dan hati itu, memang benar punyaku.

Semarang, 7 April 2010
"Puisi: Papiku"
Puisi: Papiku
Karya: Beno Siang Pamungkas

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

Post A Comment:

0 comments: