Pelabuhan Dumai
(buat Ikal)

Kita tak pernah merasa sampai: pelabuhan,
di mana-mana sama menawarkan rasa kehilangan
dan hampa perjumpaan. Perjalanan tak berakhir
di satu bandar. Masih sekian alamat minta dijelang
bagi sauh keramat untung-malang kita, o, sangsai

di pelabuhan, malam atau terik siang
selalu hanya bayang-bayang milik kita yang sejati
dan mungkin sedikit air garam buat membasuh
nikmat luka dan perih doa-doa. Lain tidak,
sebutlah kebun dan ladang atau kilang-kilang minyak
bahkan pasang surut dan mimpi tanah seberang
menolak bayangan kita sepanjang badan.

“Itu Pulau Rupat, dan Bandar Malaka
hanya sejengkal,” katamu menunjuk terang
suar dan lampu-lampu, namun ke dalam gelap jua
anganku berulang: sebab di rumah-rumah rumbia
lampu redup sudah lama padam, kelambu malaria
sobek tak tersulam, jari-jari becak tua menggapai
dalam asam paya-paya, lalu lenyap tanpa cerita.

Sementara bertongkang-tongkang orang
datang dan pergi melintasi selat sempit ini
tapi terasa kian menganga
jarak langit dan bumi. Kubaca wajah kehilangan
anak buah kapal ikan, terbaca pula sebuah lambung
kapal besar: SHIMAKAZE. “Ikal, kenapa kapal ini
merah dan baja seperti mimpi dalam tidur yang lelah?” 

Kau diam saja, tak tahu aku bertanya
maka diam-diam kukenangkan saja buah-buah ranum
kampung halaman dimasa kecil kita yang indah
namun merana. Kemudian kuingat sebuah cerita
dalam bukuku jauh di Yogya, lama tak terbaca:
Pipa Darah! Pipa Darah!*

Ah, pelabuhan di mana-mana sama
menawarkan kehilangan dan rasa hampa
semua bangsa. Tapi di sini, di tepi
tanah Melayu-Raja Ali, di sumber cerita Ikram
dan mantra Tardji, perih
tak terucapkan ngilu bahasa, tak tersampaikan
kamus kata-kata, hingga kita tak sampai
ke pelabuhan akhir dari perjalanan manusia.


Dumai 2005- Yogya, 2006

Catatan: “Pipa Darah” adalah judul sebuah cerpen Abel Tasman dalam buku Jejak Tanah -Cerpen Pilihan Kompas 2002.
"Puisi: Pelabuhan Dumai"
Puisi: Pelabuhan Dumai
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Jatuh Cinta Sedih

Post A Comment:

0 comments: