Penghuni Hutan Larangan

Demikianlah, di hutan itu konon,
ada sejenis makhluk hidup berkampung
dan tak seorang pun tahu letak persisnya
hanya sesekali jika ternak hilang di kandang
harimau jadi-jadian bakal jadi tertuduh
dan orang-orang menyumpah tertahan-tahan

makhluk halus penghuni hutan
juga entah di petak mana kampung mereka
kerap kali jika terdengar pasar ramai
pertanda bunian ikut di tengah balai
berjual-beli, tawar-menawar
dan akan ada saja pedagang yang rugi
meski banyak pula untung besar
begitu cara bunian berbagi keajaiban dari
pekan ke pekan

Tapi, apa pun, tak seorang pun mau melangkahi
batas hutan larangan. sejak setiap anak lahir di 
teratak,
dan mulai belajar menginjak lapau dan tangga 
surau
mereka sudah tahu batas-batas yang tak terlanggar

semua aturan mereka tularkan
dalam percakapan para perimba remaja
dan sesekali mereka percakapkan
di lepau kopi, di tepian mandi
di mana topi dan kopiah sama saja
nabi dan judi, tawa dan gelak sedih
dibuat hanya beda angka

di masa kata bersilang
(tak kayu nyala di tungku, tapi bedil,
senapan dan kelewang) sayup terdengar
sebuah ungkapan:

Hutan itu
firman tak terucapkan
menyimpan muasal
dosa dan pertobatan

Maka begitulah, para penghuni hutan
berbagi harapan dengan manusia pengolah hutan
Yang paham batas-batas
tak terlanggar.

2015
"Puisi: Penghuni Hutan Larangan"
Puisi: Penghuni Hutan Larangan
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi untuk Hari Ibu
Loading...

Post A Comment:

0 comments: