Peta Tikar Pandan
(– teringat nenek)

Sebuah peta tak mesti lahir
dari panjang perjalanan. Bahkan juga
dalam diam; lahir peta baru
dari keheningan dan kenangan.

Kutemukan sehelai tikar pandan
di lantai tengah rumah kenangan
anyaman tangan nenekku yang sabar
dan kubaca sebagai peta segala arah
anyaman demi anyaman bagai perempatan
yang bersilangan.

Di sini kami berkenduri, berdoa, membaca silsilah
dan membakar kemenyan. Terkenang bekas luka
jari nenekku saat memungut duri pandan
dibalutnya sendiri hingga sempurnalah ketabahan.

Begitulah tikar ini diwariskan, meski lusuh
Tapi masih terbaca jalan lurus penuh simpang
tempatku sujud dan sembahyang.

Bahkan bekas air sirih kunyahan nenek
yang memercik satu tepi, terbaca
sebagai tanda dan isyarat
yang mengingatkanku pada tangga dan garis darah!

Pun ketika kopiku tumpah dan mengering
bekasnya masih akan terbaca mata tua nenekku
Dan dikenangnya pula sebagai tanda kepergian
Seorang cucu yang ditelan rute kepahitan.

Yogyakarta, 2002
"Puisi: Peta Tikar Pandan"
Puisi: Peta Tikar Pandan
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Laut Indah

Post A Comment:

0 comments: