loading...

Sajak Bagi Yessika

1/ Yang terbayang hanya jemarimu saat menyapa bibirku sembari berkata: "adakah keabadian seusai kebisuan dan kebisingan rayuan setiap saat? Berapa harga sebait doa yang melangit?" kau tak menjawab, hanya kian merapat dan mengusap wajahku yang berdebu.

2/ Kau selalu membuka jendela, hingga ruang pertemuan menghangat saat kita saling dekap semalaman di ranjang waktu menggelinjang. Kaulah yang mengajarkan bagaimana aku menyebut indah namamu malam itu, Yessika sungguh kita mengarungi bahtera bahagia.

3/ Di jalan pasir berliku kutahu banyak tapak jejak untuk kembali dalam dekapmu, Yessika. Aku mulai merasa harum tubuhmu saat lidah ombak menyapu gambar hati terpanah di pantai saat camar gemetar di tiang layar, kau pernah berujar: perahu berlayar ke pangkuan!

4/ Sajak putih yang kugubah, Yessika adalah cermin yang menyumbulkan bayang cantik parasmu saat bersolek memoles dan memulas alis mata cahaya sajak yang tak letih menulis harum rambutmu adalah bahasa diam, jauh dari mendendam.

5/ Yessika, telah kurenggut topeng di muka pura kini aku telanjang bugil dalam gigil mengekalkan peradaban: ritual peribadatan! Riak dan ombak menjilat pantai sekadar untuk terburai mengurai makna cinta!

2010
"Puisi: Sajak Bagi Yessika"
PuisiSajak Bagi Yessika
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top