Puisi: Sajak Mencari Kutu Karya: Raudal Tanjung Banua
Sajak Mencari Kutu
(– kenangan kecil bersama ibu)

Kau tahu, mencari kutu tak selalu di tubir pintu
sambil menyimak angin lalu. Tidak pula sekadar
pembunuh waktu bagi perempuan kesepian.

Perempuan-perempuan yang menunggu
yang ngingatkanku pada ibu!

Dulu, ibu selalu menegurku bila duduk di depan pintu
atau tubir jenjang. Beliau bilang berpantang:
Anak gadis sukar dapat laki, dan laki-laki
bakal jadi tawanan mimpi, pun ilusi-ilusi

Itulah sebabnya, bahkan untuk sekadar mencari kutu
ibu selalu mengajakku duduk di tempat sejuk,
misalnya di beranda
atau ruang tengah. Dan kalaupun harus menyimak bahasa laut
cukup dari gelora atau memandangnya saja lewat jendela

“Mencari kutu tak mesti berbincang sampai petang. Bukan pula
bergunjing, menjinjing telinga kiri-kanan. Mencari kutu
adalah bahasa kasih sayang nan tak lekang
oleh waktu. Meski kau pun tahu, perempuan-perempuan
yang menunggu
seperti ibu yang juga bakal menunggu kamu, sungguh
tidaklah bisu!”

Begitulah kata ibu yang menyengat naluriku
sambil terus mencari kutu di kepalaku
meski kadang-kadang hanya sekadar mengusapnya
mencari-cari bekas luka kena palang pintu
– tanda yang kelak ia kenang penuh rindu!

Dan meski aku ini anak lelaki, tapi merasa pasti
tetap butuh waktu merintang hati, butuh waktu merasakan
bahasa kasih sayang, yang nanti bila pergi, selayang waktu itu
akan menggelegak mematangkan segala rasa
mengajakku – siapapun juga — pulang tersedu!

Tapi sudah lama aku tak pulang! Memang sudah masak
rasanya buah rindu
di sekujur batang tubuhku, sudah menggelegak rasa itu
ke puncak ubunku,
melebihi apapun yang bernama rindu dan restu dalam dadaku
namun, bagaimanakah aku hendak melabuhkannya, ibu?

Atlas di saku kumalku ini makin penuh titik
seperti bekas kutu baru ditindas
di atas putih kertas. memercikkan titik demi titik
noda dan darah, yang mengering dan menghitam,
bagai bekas luka di kepalaku
yang membeku bersama rencana-rencana
dan setiap titik dihubungkan guguran rambut
membuat peta perjalananku kian hitam dan kusut.

Ibu, segala tuju peta nasibku bagai titian serambut
dibelah tujuh, membuatku tertujah dan jatuh!

tapi bila nanti aku pulang atau terhantar
kuingin menyisir rambutmu di halaman
kertas-kertas puisi cintaku
kini penuh coretan. enyahlah
kutu-kutu yang kena kutuk waktu
gugurlah uban di jalur lurus langkah kakiku
menuju pintu-pintu tak diketuk
kini membatu.

Yogyakarta, 2001
"Puisi: Sajak Mencari Kutu"
Puisi: Sajak Mencari Kutu
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Menatap Laut
Loading...

Post A Comment:

0 comments: