Bisnis

header ads

Puisi: Sajak untuk Aida

Sajak untuk Aida

(1)
Yang kuingat hanya jarimu yang meraba bibirku
dan kau berkata: "Kapan kebebasan ini berakhir,
kalau seluruh tubuh sudah diresapi dan
kenikmatan tinggal segenggam uang kusam di tangan?
Berapa aku kaubayar semalam?"
Kita tak beringsut dari sudut kamar tempat kita terdampar.
Semua tertutup kecuali pintu di mana cinta
menanti yang menunjuk ke arah mati.

(2)
Kau telah membuka dimensi di mana
ruang hilang batas tak bergaris tak berdinding
tapi mengandung sudut kenangan bagi nyawa berdua.
Masih terdengar keluh sakit yang tersayang
dari sela waktu yang menghimpit:
Aida, kita di ambang bahagia.

(3)
Di pulau satu yang tabu
banyak jejak tak kembali.
Yang mencapai sorga hanya mereka yang dewasa,
sedang perempuan manja di alas ranjang
hanya tinggal berbaring, malu.
"Aku ingin cepat bobok dan mimpi pacaran
sama papa."

(4)
Kasih kita yang kudus, Aida
adalah kaca
yang lekas pecah disentuh kata.
Dalam selubung
hubungan kita berlangsung dalam diam
bukan lantaran dendam.
Tapi redamkan suara
kalau mendekati gerbang pura.

(5)
Sengaja kurenggut topeng di muka
dan kau menyerahkan kehormatanmu
kepadaku yang terlupa.
Tinggal kita bugil
menanggalkan peradaban. Berdua

aku lebih berani berhadapan.
"Di gua semut pun aku mau kalau sama papa,
jangan lagi menghadang maut."

(6)
Selama cerita diperkenankan
dinding akan bertahan
di malam beku.
Tapi mawar itu di jembangan
yang kupetik tadi siang
mulai layu.
Pungut kelopak bunga, sayang
begitu memabukkan!

(7)
Jarak yang jauh sepanjang malam
antara diriku dengan tempatmu berada
menyebabkan aku tak tahu apa yang terjadi.
Apakah kau sendirian mengenang atau
tidur dengan orang laki-laki, aku tak bisa menjadi saksi.
Aku hanya bergantung pada janji,
tapi apa yang kaulakukan
saat ini, aku tetap sangsi.

(8)
Aku letakkan kepalaku ke dadamu.
Degup jantungmu berulang
tidak hanya pada detik ini tetapi
sudah beribu tahun sebelumnya
ketika ombak menjilat pantai
di hening sorga. Resapkan rasa bahagia
sampai berlinang airmata. "Papa, inikah yang dinamakan cinta?
Rindu ini sakit sekali."

(9)
Engkau sudah tercemar sebelum kusentuh pertama kali.
Memang dunia ini tersaji
bagi insan yang berani memadu napsu sampai batas akhir
sehingga hilang beda antara nikmat dan lupa.
Begitu dekat jarak antara cinta dan maut.
Aida, bajumu menjadi merah di tanganku kena getah darah.
Hanya api, kukira, api neraka
yang menyala sepanjang hayat kita
yang akan sempat menghanguskan semua
noda sehingga kita murni kembali
telanjang sebagai bayi.

"Puisi: Sajak untuk Aida"
Puisi: Sajak untuk Aida
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Pujangga Cinta Romantis

Posting Komentar

0 Komentar