Sampit

Di Sampit,
orang-orang pernah merayakan
pikiran sempit,
kota yang lapang menjadi sempit

Ketika kudatang kudengar suara enggang
menjauh di bukit-bukit,
jauh di sebalik hamparan sawit
lengang mengapung di ladang tambang,
lengang mengepung
pikiran dengan jelaga hitam kenangan
: Parenggean, pasar terbakar,
kuburan raya di batas kota
hingga pelabuhan Sungai Mentaya
belum seluas cakrawala,
belum sebatas lupa.

"Puisi: Sampit"
PuisiSampit
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: