Suara Jalanan dan Opera Binatang

Suara knalpot dan debu jalanan berlabuh di paru-paru. Kota, memanen 
aneka kata yang berebut bicara. Kata benda berdesak dengan kata kerja
saling banting dengan kata sifat. Kulihat merah putih berkibar letih di tiang jemuran
dan aku merekamnya dengan handycam kusam. Suara guruh di luar gedung
tersambung suara gemuruh di dalam gedung melengkung. Suara berdengung

bagai lebah beterbangan mengitari merah putih yang letih di tiang jemuran.
Aku kembali merekam otot-otot yang keluar dari lengan terkepal. Saling dorong
menyorongkan gagasan, menyerongkan pesan. mereka bergerak saling mendesakkan
kepentingan. Aku melihat kertas-kertas suara yang dulu diberikan oleh rakyat
beterbangan di udara hampa. Seekor garuda

melintas dan hinggap di dahan kamboja. Lalu kelelawar, burung pemangsa
serigala, atau domba berlarian di lorong, kuda berganti warna. Rumput mengering di kening
ilalang terus bergoyang melupa waktu sembahyang. Merah putih tak letih
berkibar. Garuda mengangkasa. Penguasa melupa janjinya. Rakyat
turun ke jalan menjadi debu.

Jambi, 2010
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiSuara Jalanan dan Opera Binatang
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: