Sungai Siak
(untuk Marhalim)

Di tepian jagung bakar
di bawah jembatan dari baja
hujan mengguyur tenda-tenda
merah muda. Kita pun kuyup
menakar kedalaman sungai waktu
dari gelak riang anak-anak
mandi telanjang, dari arus kuning
dan akar-akar terbantun
pada tebing kecemasan.

Bagaimana mengukur ketulusan
dari usia yang diberikan Tuhan?
Rintik hujan membuat lingkaran
di kulit air yang beriak - air bertemu air
bercampur dan mengalir
seperti usia dan tangisan yang berlepasan
ke muara - bagaimana membedakannya?
Dan riak ibarat isak, segala yang tampak
tapi tak sanggup mengukur hening dasar
atau menjangkau hulu hatimu yang diam.

Di tebing kecemasan, di tepian jagung bakar
kita hanya dapat memandang
anak-anak murni telanjang
dan berloncatan sebagai umpan retak
masa depan. Atau membayangkan
aroma rempah di lambung kapal-kapal
yang pergi dan karam - adakah mahkota
dan silsilah raja-raja di hatimu berdiam?

Di tepian jagung bakar, di bawah tenda-tenda
runcing hujan, sia-sia kita menakar
kedalaman hati - kuyup keharuan
dan sungai waktu - seribu tahun keheningan
Kecuali kau dan aku jadi batu
terlempar dari tebing. Runtuh
dan terbenam.

Pekanbaru 2005-Yogya 2006
"Puisi: Sungai Siak"
Puisi: Sungai Siak
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Baca juga: Kumpulan Cerita Humor Gokil Abis
Loading...

Post A Comment:

0 comments: