loading...

Pengusaha Sukanto Tanoto mampu membawa Royal Golden Eagle (RGE) berkembang pesat. Dari sekian banyak langkah untuk mewujudkannya, kemauan untuk selalu memanfaatkan teknologi menjadi salah satu alasan. Ini dibuktikan di Asian Agri yang sampai mengadopsinya untuk perkebunan.

"Penggunaan Teknologi di Perkebunan Kelapa Sawit Perusahaan Sukanto Tanoto"
Image Source: Asianagri.com

Asian Agri adalah salah satu unit bisnis dari RGE yang bergerak di bidang kelapa sawit. Sekarang mereka menjadi salah satu produsen crude palm oil utama di Asia. Setiap tahun, perusahaan Sukanto Tanoto ini mampu menggapai kapasitas produksi satu juta ton per tahun.

Pencapaian itu tidak lepas dari optimalisasi perkebunan yang dimilikinya. Sejak membangun kebun kelapa sawit pertama di Gunung Melayu pada 1983, Asian Agri sudah memiliki 27 perkebunan dengan luas total 160 hektare. Perkebunan-perkebunan itu tersebar di tiga provinsi, yakni Riau, Jambi, dan Sumatra Utara.

Dari 160 hektare lahan yang dimiliki, tidak semua dikelola oleh Asian Agri. Oleh perusahaan Sukanto Tanoto itu, pengelolaan 60 ribu hektare di antaranya diserahkan kepada para petani plasma. Berkat itu, sekitar 30 ribu keluarga mendapatkan manfaat dari kerja sama tersebut.

Optimalisasi perkebunan menjadi hal vital bagi kinerja Asian Agri. Sebab, sebagai bagian dari RGE, mereka menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak membuka lahan perkebunan baru.

Banyak cara yang sudah ditempuh untuk mengangkat produktivitas perkebunan yang dikelola. Belum lama ini, Asian Agri meluncurkan program yang dinamai Asian Agri Connected Plantation (AACP). Melalui inovasi ini, mereka ingin membalikkan label bahwa perkebunan tidak bisa mengikuti perkembangan zaman.

Selama ini, perkebunan memang identik dengan sistem yang tradisional. Modernitas seperti tidak akan berlaku di sini. Lihat saja sistem kerja di kebun. Penanaman dan perawatan pohon kelapa sawit dilakukan secara manual.

Ketika sudah dipanen pun cara memanen masih manual. Pemanen mengambil buah kelapa sawit satu per satu. Setelah itu, Tandan Buah Segar (TBS) hasil panen dikumpulkan dalam truk yang kemudian mengangkutnya ke pabrik.
Hal itu sudah dilakukan sejak sekitar seratus tahun lalu ketika perkebunan kelapa sawit mulai ada di Indonesia. Itu tidak berubah hingga kini. Namun, Asian Agri mencari terobosan supaya hasil perkebunan mampu optimal lewat AACP. Mereka berusaha meningkatkan efisiensi dalam kegiatan perkebunan, mempermudah perusahaan menganalisis, serta mempercepat proses pengambilan keputusan lewat penerapan AACP.
Dalam program ini, aktivitas dimulai dari penghitungan data dalam proses produksi. Data lalu dikumpulkan dan dimasukkan melalui perangkat tablet. Setelah itu, data-data diolah menjadi data real-time yang dapat memberikan gambaran kegiatan di lapangan.

Pengolahan data itu memang berarti penting bagi operasional. Data tersebut bisa mempermudah seorang manajer untuk menguasai apa yang terjadi di lapangan.

Asian Agri memulai AACP dengan proyek percontohan di perkebunan Gunung Melayu. Persiapan dimulai pada Mei 2016. Setelah itu, pada Oktober 2016, AACP bisa mulai dijalankan secara penuh.

Pada tahap pertama, perusahaan Sukanto Tanoto ini memfokuskan diri pada pemakaian teknologi demi optimalisasi hasil perkebunan. Mereka kemudian membekali para mandor dan asisten dengan tablet yang didalamnya telah ada perangkat lunak khusus.

Dengan tablet itu, para mandor dan asisten yang sehari-hari mengamati perkebunan memasukkan data-data tentang area yang siap dipanen. Setelah data terkumpul, perusahaan kemudian mengatur jadwal penugasan panen. Pasalnya, waktu panen yang tepat ternyata dapat mempengaruhi produktivitas tanaman.

Sistem kerja serupa juga diterapkan oleh para kerani. Setelah memeriksa jumlah dan kualitas buah setelah dipanen, mereka akhirnya diminta memasukkan datanya ke dalam sistem. Sama seperti mandor dan asisten, para kerani juga telah dibekali tablet dengan software khusus.

Bahkan, perangkat serupa dan pekerjaan yang sama juga dilaksanakan oleh para sopir yang mengangkut hasil panen. Mereka diminta untuk mencatat berapa banyak hasil panen yang diangkut ke dalam sistem khusus.

MENGANGKAT KINERJA PERKEBUNAN

"Penggunaan Teknologi di Perkebunan Kelapa Sawit Perusahaan Sukanto Tanoto"
Image Source: Asianagri.com

AACP yang dilakukan oleh Asian Agri terbukti bermanfaat positif. Kinerja dan efisiensi perkebunan dapat digapai. Pekerjaan pun semakin mudah.

Contoh pertama terkait dengan analisis hasil perkebunan. Dengan penerapan AACP, perusahaan Sukanto Tanoto ini tahu persis hasil panen setiap kebun. “Kami bisa mendapatkan data pasti mengenai berapa buah yang dihasilkan di satu area tertentu,” kata Head of Digital Transformation Asian Agri, Maradat L.

Data ini berarti penting. Perusahaan Sukanto Tanoto itu jadi tahu area mana saja yang mampu menghasilkan panen baik dan buruk. Dengan itu, mereka mampu melakukan analisis untuk mencari penyebab pasti produktivitas perkebunan. Jika menemukan hal baik, mereka akan menerapkannya di perkebunan lain. Sebaliknya mereka dapat belajar ketika tahu ada perkebunan yang tidak mampu menghasilkan panenan optimal.

Para pekerja perkebunan juga tidak merasa direpotkan dengan penerapan AACP. Meski harus rajin menginput data, mereka tidak keberatan. Sebab, pekerjaaan mereka pada akhirnya dipermudah berkat pemanfaatan teknologi tersebut.

“Sebelumnya menggunakan teknologi ini, banyak staf yang harus pulang hingga larut malam untuk menyelesaikan data dan perhitungan premi setelah panen,” kata Maradat.

Kesuksesan yang diraih akhirnya membuat Asian Agri memutuskan untuk memanfaatkan AACP di semua perkebunan yang dimiliki. Kini, semua mandor, asisten, kerani, hingga sopir selalu melakukan pencatatan data sesuai yang lingkup kerja masing-masing.

Sekarang, Asian Agri hendak memperluas cakupan AACP. Mereka berniat untuk mendorong tim sensus, tim pemeliharaan hingga mantri tanaman dan penyakit untuk memanfaatkan teknologi demi peningkatan kinerja.

Pemanfaatan teknologi seperti ini sejatinya bukan hal baru di tubuh Asian Agri. Sejak dulu, perusahaan Sukanto Tanoto ini selalu aktif memanfaatkan sains demi peningkatan kinerja. Buah nyata banyak. Salah satunya adalah kemampuannya dalam menghadirkan bibit unggul yang dinamai Topaz.

Asian Agri rela mendirikan Asian Agri Oil Palm Research Station (OPRS) pada 1996 untuk mengembangkan bibit unggul. Dari sana Topaz dilahirkan. Sekarang mereka punya bibit kelapa sawit yang menjamin hasil panen tinggi, tahan hama, dan fleksibel ditanam di berbagai jenis kondisi tanah.

Sebelumnya pada 1989, Asian Agri R&D Centre sudah didirikan di Tebing Tinggi, Sumatra Utara. Unit riset ini membantu dengan melakukan sejumlah penelitian demi peningkatan hasil perkebunan. Dibekali dengan beragam laboratorium dan tim kompeten, mereka akhirnya mendukung pengelolaan kebun kelapa sawit dengan penemuan cara perawatan tanaman yang tepat.

Tidak heran, hasil perkebunan Asian Agri selalu optimal. Saat ini, mereka sudah mengejar target mencapai hasil Tandan Buah Segar lebih dari 35 ton per hektare. Ini berkat sejumlah langkah mulai dari pemanfaatan teknologi seperti AACP hingga sains yang dijalankan.

Kebetulan, pengusaha Sukanto Tanoto yang mendirikannya memang selalu mendorong pemanfaatan teknologi. Baginya, proses belajar harus selalu dilakukan. Oleh sebab itu, semua pihak di RGE diharapkannya untuk mau mencari terobosan supaya maju. Penerapan AACP di Asian Agri menjadi hal konkret yang diharapkan.

Post a Comment

loading...
 
Top