Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Babaranjang (Karya Raudal Tanjung Banua)

Babaranjang

Aku melihat legam punggungmu, ayah
atau orang lain seperti ayah, berkelebat
begitu dekat, dengan tulang belakang terentang
serupa rel atau tangga ke langit, menyunggi barang galian
perut bumi - melintasi hamparan bahu
dan bungkuk kudukmu, berpunuk, penuh bungkulan
serupa getah karet batu-raja, sehitam batu-bara bukit-asam
terentang jauh dan panjang, o, babaranjang!

Segalanya terdedah di atas bak hitam terbuka, tapi siapa
yang bisa menyentuh muatanmu, kecuali si tangan panjang
sumber derita, di kota-kota dan bandarlama atau pelabuhan hampa
meski segalanya masih terikat pada rel karat itu
- tulang punggung ayahku atau orang lain
yang sama getas dan kelabu.

Ya, aku melihat punggungmu ayah, beribu-ribu punggung,
berjejer dari gunung ke kota hingga pantai terujung,
di sana, dicambuk gigir roda-roda baja, terkelupas
dan berdarah, di tengah gigil dan deru rindu semesta
kusaksikan pemandangan menakjubkan dari derita:
kereta hitam bak terbuka melaju terbang ke bulan
yang perlahan gerhana!

Palembang, 2006


Babaranjang: sebutan untuk kereta api barang (bak terbuka) yang biasa mengangkut hasil tambang batu-bara dan hasil bumi lainnya di daerah Sumatera Selatan.
"Puisi: Babaranjang"
Puisi: Babaranjang
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Baca juga: Kumpulan Cerita Humor Malam Minggu

Artikel Menarik Lainnya:

0 Comments:

Posting Komentar

close