loading...

Batang Nilau

Pada hari aku pergi
sebatang nilau berkilau di tepi ladang
diurapi matahari pagi baru datang
aku pun seperti baru dilahirkan
meski tak mengubah nama-nama hari,
tujuh kata dalam sepekan
aku pergi bukan ke pekan senin, kemis atau minggu
aku turun-mendaki bukan membawa buah,
kayu atau duri di punggung
aku pergi membawa keringat ladang
yang lengket di potongan pakaian rombeng

Pada hari aku akan pergi
dua-tiga batang nilau menyisih
membuka-mengatupkan mataku tengah hari
sementara suara seruling sayup
menyuling air-kata di cekung pipi:
aku akan pergi, mungkin lusa atau sepekan lagi
aku akan pergi, mungkin segera atau tak kembali.

Pada hari aku bakal pergi
deretan batang nilau memutih
menggeriapkan sepi di ladang menjelang sore hari
- putih-putih kasih ibu,
putih-putih rambut, susu, tulang, merapuh

Pada hari aku tak tentu pergi
batang-batang nilau merah-kuning-gading disepuh
cahaya senja hari, seperti gurat risau di rona pipi
gadis-gadis merana lepau kopi

Pada hari aku menolak pergi
gerombolan batang nilau tegak serupa hantu
malam hari, menghalauku pergi jauh
atau sembunyi di balik pintu

Pada hari aku belum mengenal kata pergi
semua batang nilau, yang dekat atau yang jauh,
adalah sahabat sejati sekaligus musuh abadi
dalam gelap-terang hari-hari
milik matahari itu juga
di bumi

Pada hari tak ada kata
setiap batang dan ranting nilau
membuat bayangan hitam dari jelaga matahari,
hingga kepergian tak terucapkan: tertutup rapat
di buku-buku kusam dalam almari - tempat menyimpan
pakaian rombengku tadi.

Pada hari yang tak ada, dan segalanya tak terduga
aku sesungguhnya masih mencipta:
batang-batang nilau, hijau ladang dan bayang-bayang,
dengan sulingan air-kata yang kusinggung murung
di bait ketiga, tengah hari: hingga seketika itu juga tetesnya
jatuh di telapak tanganku, yang semalaman lalu sekarat
menulisi kepergian ini
tapi di keesokan pagi, tiada temaram, tanganku
menjelma jadi ranting dan daun sebatang nilau
yang berkilau tenang di tepi ladang
diurapi matahari pagi baru datang

Tepat pada hari aku pergi
ya, pada hari aku akhirnya pergi
dan merasa seperti baru dilahirkan.

Yogyakarta, 2007
"Puisi: Batang Nilau"
Puisi: Batang Nilau
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Baca juga: Kumpulan Cerita Humor Ngakak

Post a Comment

loading...
 
Top