loading...

Ketika Hujan Turun Selalu

Begitu banyak biola, begitu banyak piano dan seruling
Menyayat-nyanyat Februari tanpa kamu
Tapi di Ambon, api dan peluru - entah dari mana datangnya -
Membakar langit Maluku, bikin kemesraan jadi aneh
Cinta jadi lelucon dan keadilan omong kosong
Karena kamu dan aku tak ada di sana
Karena kamu dan aku hilang di antara musik dunia.

Sedang apa kamu di Los Angeles, Bogor, atau Tokyo
Ketika aku dan burung-burung itu terbang dalam hujan
Ketika tutur dan dendam menyobek-nyobek Indonesia?
Kebebasan telah membuat kami bodoh dan garang
Mengutuk, mengecam, mengganyang, menutup hati
Para tamu pergi dari negeri ini, yang tak sama mengungsi
Orang-orang tua bertanya, "Kapan hujan reda?"

Aku dan kamu mencoba tetap hidup dalam sajak
Meskipun aku tak yakin apakah kita bakal ketemu lagi
Apakah piano, biola, dan seruling yang mengiris-iris itu
Akan menyatukan serpih-serpih hati kita, entah kapan,
Entah di mana, dan entah siapa yang sanggup melihatnya.
Kita telah jadi korban ketidak-jujuran, puing sandiwara
Ketika aku tak menemukan lagi kaitan perang dan cinta.

2000
"Eka Budianta"
Puisi: Ketika Hujan Turun Selalu
Karya: Eka Budianta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Panjang

Post a Comment

loading...
 
Top