loading...

Penantian

Di dalam gelap kamar aku tak bisa
melihat jam dinding menunjuk pukul berapa.
Yang kutangkap hanya bunyi tik-tik yang tidak
memberi kepastian masih berapa lama akan pagi.
Aku menanti bersama buku-buku di meja dan
baju kumuh yang bergantung di lemari.

Hujan yang menimpa di atap mengisi kekosongan
dan menjadi sangat berarti. Penantian mendambakan
kejadian dan nyawa berteriak: “Terjadilah sesuatu!”
Kilat yang tiba-tiba menyambar memberi kebahagiaan
yang sejuk tak menentu.

Menanti adalah tugas mulia yang dilakukan
Kalijaga di tepi sungai sampai urat akar membelit
jasadnya. Kenikmatan terdapat dalam hilangnya kenangan
sejarah dan harapan hari nanti. Keabadian mengental
pada detik ini, yang tidak mungkin dipegang kecuali
kalau penantian berhenti.

Makhluk yang dikasihi Tuhan adalah batu. Ia tak
pernah merasa resah, karena membiarkan peristiwa
berlalu. Baginya tidak ada penantian. Awal dan akhir
zaman dialami dengan sikap tak peduli. Begitu juga
tak ada benci atau cinta yang menggoda ketenangan diri.
Ia diam dalam sakit waktu bumi hancur sampai sekecil
atomnya.

Ah, ada yang ingin jadi batu kalau kehidupan dimulai
lagi.

"Puisi: Penantian"
Puisi: Penantian
Karya: Subagio Sastrowardoyo

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Lama karya Sanusi Pane

Post a Comment

loading...
 
Top