Anakku Menangis

Anakku menangis menagih jam mainnya
bagai gelombang menendang langit
padahal malam telah larut, saatnya kita mengisi hidup
dengan kegembiraan mimpi-mimpi

Banyak orang menangis di luar
langit telah sobek - di Aceh, Ambon, Bengkulu, dan Jakarta -
kita hanya bisa menunggu, cuma menunggu
ada embun yang jatuh, entah dari mana

Sebab hidup telah banyak melahirkan pertengkaran
untuk kesekian kali, kita pun menanggung kekalahan.

Jakarta, 25 Juni 2000
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Anakku Menangis
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Bebas tentang Sahabat

Post A Comment:

0 comments: