Cerita dari Suratkabar (1)
(- Catatan dari Tanah Rencong)

Hari ini, kau datang lagi dengan air mata di tangan
"ada yang mati lagi, ditembak entah oleh siapa," katamu
aku menyeret kursi agak ke depan dan menatapmu dalam-dalam
tidak ada lagi air mata di sana - luka menjadi biasa
kematian adalah nasib buruk. Bukan keabadian.

Tak ada yang perlu disesalkan memang
ini adalah sebuah pertengkaran. Bukan pertandingan kalah-menang
satu mati akan melahirkan seribu dendam
dan kau mencatatnya dengan tekun, satu demi satu
sampai semuanya menjadi terbuka

dan semua hanya melahirkan lebih banyak lagi air mata

Jakarta, 28 Mei 2000

Cerita dari Suratkabar (2)
(- Catatan dari Jakarta)

Ibu itu menangis, melihat tubuh anaknya melepuh
dan gosong - hampir-hampir tak dikenalnya
"ia pantas mati, ia tak punya arti, ia telah mencuri,
ia telah menipu kami," teriakmu. Ibu itu jatuh
dan orang-orang ramai mengangkatnya dan melempar
ke bak sampah. "ia pun pantas mati, ia ibu pencuri!"
lalu engkau pun mengirim peti mati
sambil berharap: nanti ada lagi yang mencuri
untuk dibakar lagi. Itu menjadi hiburan baru bagimu,
selain tawuran antar kampung, nongkrong di persimpangan,
dan berjudi.

Jakarta, 28 Mei 2000
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Cerita dari Suratkabar
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Bebas karya Sendiri

Post A Comment:

0 comments: