Fragmentaria Darah

Kala pencarian makin membingungkan
seberkas sinar memantul kegeraman
wajah-wajah ketakutan satu-satu melintas di sana
tak seorang pun mampu menolongnya

Ketika cahaya makin terang menyinari
layar makin lebar terbuka
seluruh dunia terpana
amarah kita terguncang
urat nadi kita bergetar
jiwa dan raga kita terbakar
gemerlap cinta kita pudar

Kita terkulai menyaksikan diri kita
yang terluka tersayat di jiwa
merintih dalam kepapaan sukma
bertahun-tahun terkurung tanpa ada
yang membuka jendela
bertahun-tahun memikul beban, tak seorang pun
mampu menolongnya
bertahun-tahun berkaca mencari kekurangannya
bertahun-tahun mengusap data menentramkan jiwa

Lihatlah di sana
mayat-mayat bergelimpangan
bumi ini basah
berdarah
laki-laki tanah rencong telah jadi tumbal
bukan rahasia
wanita-wanita mulai menjadi sandera
bukan cerita
wahai, betapa jiwa kita tak retak
penindasan-penindasan telah sampai
ke ubun-ubun sakitnya
masih juga harus menyaksikan
mereka berlalu melenggang tenang

Wahai
cukuplah sandiwara ini sampai di sini
bukalah layar untuk keadilan
bukan pelampiasan kesewenang-wenangan.

Puisi D. Kemalawati
Puisi: Fragmentaria Darah
Karya: D. Kemalawati

Baca juga: Kumpulan Cerita Lucu di Sekolah
Loading...

Post A Comment:

0 comments: