Keudah

Remang lampu kota menyibak selendang senja
Ketika semilir mengayuh kenangan lama
Ada yang tak terucap ketika mencium wangi malam

Tiba-tiba kabut menjamah geliat pinggang desa
Ada yang merendam di bibir sungai
Bayang-bayang meresahkan
Hati begitu bergetar disentuh oleh semacam rasa
Gugusan angin dari laut meluruhkan
Sampai batas ceria

Bercanda sorot mata dengan warna-warni lampu kota
Riak sungai yang perak Krueng Aceh membelah suasana
Bagi mereka yang tak pernah jadi
Ternyata hanyut tenggelam dalam hati
Di desa yang bernama ini, tawar menawar
Hanya sebuah basa-basi
Pada akhirnya kehidupan semakin menua 
Mempertahankan harga diri

Memandang ke udik sungai ungu jauh sekali 
Merdu nyanyian perawan-perawan tanggung yang dipingit
Menggelepar dalam sejuk malam
Yang ingin melepas diri dari jerat serang laba-laba.

Desember, 1992
Puisi: Keudah
Puisi: Keudah
Karya: Hasbi Burman

Baca juga: Kumpulan Puisi tentang Hitungan Jarak

Post A Comment:

0 comments: