Kolam
(: Hasbi Burman)

Penyair, mengapa kolammu tak lagi
kau gali, seperti petani di desamu: tiap pagi
menggotong cangkul mengolah ladang

Aku melihat kata-kata berlompatan bagai biji hujan,
menyeberang kumis tebal, menjadi becak di jalanan:
tertatih-tatih dan tertindih

Kota itu telah menjadi pasar maha luas, penyair
tempat beragam uang dilemparkan: orang-orang datang
membikin rumah dan mencipta kenangan

Tak perlu puisi, apalagi rambut kita yang makin uban,
mereka meminum anggur dan menjadi penyair itu sendiri
bersajak tentang kangen dan tanah lapang

Lihatlah jalanan tempat kita terperosok malam-malam:
kegelapan makin mencekam. Atau di deretan meja plastik Rex:
kopi tak lagi manis untuk diseduh

Kau tahu penyair, kota itu telah menjadi harimau
kita makin terasing: terusir ke Seulimum, ke pelosok kampung,
terpaksa membikin rumah di hutan Seulawah

Aku tak lagi membaca isyarat daun dari bibirmu, bulan yang
tenggelam di payau-payau, angin yang menampilkan tarian daun
di Gue Gajah, dan untaian yang bergulir di atap Peunayong

Duh penyair, kolammu tak lagi dalam
meniupkan hawa sejuk pegunungan
angin mati.

Depok, Juli 2006
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Kolam
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Joko Pinurbo Bahasa Indonesia
Loading...

Post A Comment:

0 comments: