Koran Pagi Tanpa Kopi

Lagi-lagi aku menemukan wajahmu yang pucat dan lucu
seperti bocah-bocah, kau ambilkan sehelai daun dan kau
sentuhkan
di kepalaku sebentar lalu kau lempar ke udara, siapa
yang pertama
menginjak, dialah pemenangnya
dan kakimu dengan tangkas menghancurkan daun itu,
menjadi kopi pagi yang hangat saat berangkat kerja

Sungguh, aku pun lama dalam permainan itu, meski kutahu
kita hanya berpura-pura, tetapi koran-koran telah dengan
tekun
menulisnya - seperti kau menulis surat cinta Sinta atau
Isabella,
tak habis-habisnya, tak putus-putusnya, kata-katamu
mengalir
seperti air, dan hidupnya menjadi begitu bergairah
begitulah kini, saat berangkat kerja, kita melirik koran pagi

Dan kita, lagi-lagi, punya ide buat bermain kembali -
seperti perjudian
permainan kita tidak pernah selesai, sebelum salah satu
di antara kita
benar-benar menjadi pemenang, ya, pemenang yang bukan
saja menang,
juga bisa membuat semua menjadi tenang. Sekarang,
biarkan saja di luar mereka gigit jari, sementara di sini, dari
lantai sekian
gedung ini, aku melempar lagi surat cinta buatmu dan
tangkaplah
dengan seluruh gairah kanak-kanakmu.

Jakarta, 4 Juli 2000
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Koran Pagi Tanpa Kopi
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Puisi Chairil Anwar Kawanku dan Aku

Post A Comment:

0 comments: