Landskap Sabang

Senja hari, begitu aku tiba
laut meredam cahaya merah langit
akupun tepekur menyonsong malam
mendamaikan keruh pikiran dengan sunyi sabang hari ini

Ah, betapa gairah aku kenang
gadis-gadis menenteng dagangan
dari dulu, kemana bersembunyi?
blue jeans dan entah apa lagi
pasaran luar negeri

Pagi hari, ya pagi hari
lewat jendela tinggi hotel sabang hill
seharian aku berlayar dengan pikiranku
aneuk laot-batee itam
kelokan naik turun jalan kota
wangi cengkeh dalam lembabnya angin laut
aku berlayar
pulau rondo-rubiah, entah apalagi
dengan pikiranku
menggapai-gapai keriuhan
orang-orang di pelabuhan
barang-barang di pelabuhan
kapal-kapal di pelabuhan
atau cerita jengek, inang-inang kegelian menyelip bawaan di selangkangan
dimana bersembunyi kesibukan panjang gerombolan orang-orang datang?
(di-pulo-geu-peu-weh)
dalam pikiranku, aku semakin paham
jalan-jalan kembali sunyi
dan sebelum senja kembali datang
aku kemaskan catatan-catatan
lalu mempersiapkan perpisahan
di pelabuhan teluk itu
kami sama sepi kini.

Desember, 1986


Catatan:
  • Aneuk laot-batee itam: Nama-nama tempat
  • Jengek: Jenggo ekonomi, istilah bagi para penyelundup di masa jaya Freeport Sabang, kebanyakan perempuan pendatang dari luar Aceh.
  • Pulo-geu-peu-weh: Pulau yang diasingkan, dalam sejarah penjajah Belanda, pernah dijadikan pulau untuk mengasingkan para tahanan.
Puisi: Landskap Sabang
Puisi: Landskap Sabang
Karya: Doel CP Allisah

Baca juga: Kumpulan Artikel Bisnis Properti

Post A Comment:

0 comments: