Melukis Puisi

Adakah kau menunggu, pada sudut
yang bebas dari tempias hujan
menandai sebuah sunyi dan dingin malam
sambil kau baca surat-surat yang belum selesai kutuliskan
sambil menatap hari-hari yang gelisah

Laut di sini tetap bergelombang
menggores luka di bekas tapak tangan
aku ingin kau menghapus kegelapan pantai di bibirku
yang gemetar setiap menyebut ayat-ayat langit
padahal aku telah diajari membaca
tetap juga kutemui huruf-huruf yang kaku

Dalam gigil terselip sepucuk puisi
isyarat yang tiap saat mesti kuterjemahkan
seperti langit yang senantiasa berganti warna
seperti laut yang selalu saja surut
aku di dalamnya
melukis gambar-gambar yang dipotret sejarah.

Trienggadeng
1996
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Melukis Puisi
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Tsunami Pendek
Loading...

Post A Comment:

0 comments: