Memo Musim (1)

Apa yang kita dengar dari gemerisik angin
saat usia makin merimbun
adakah masa silam telah mematangkan
hari-hari kita
mengajari kita tentang banyak hal:
kegembiraan, air mata, dan hati yang pedih
menghadapi banyaknya persoalan
di bumi yang sakit

sebelum sempat beranjak, mari kita hening sebentar
memperhatikan langit: adakah wajah kita makin cerah
atau justeru makin berkabut
saat semuanya harus dipertaruhkan,
termasuk hati, juga kegembiraan orang lain,
dan mengubur kenangan-kenangan pahit
setelah kita menemukan rumah-rumah,
setelah kita lelap dengan berbagai menu di meja makan

apa yang kita petik dari perjalanan ini
dari berisik jalan raya, adakah kangen
setelah berabad-abad kita berlari
mengejar kota-kota
lalu lahir beribu kali: rupa penuh warna

adakah kita pahami kelahiran itu?

Jakarta, 6 Oktober 1997

Memo Musim (2)

Kita tulis kegirangan-kegirangan dalam buku yang lain
setelah pagi menyuguhkan air mata dan darah
yang kita seduh bersama kopi dan roti: menjadi bagian
kegembiraan kita tiap hari

lalu kita kutip nasib menjadi kegembiraan-kegembiraan kecil
sambil menyesali hari-hari gemerlap yang berlalu
tanpa sedikitpun kita beri tanda: hanya jejak-jejak kecil
bergaris dalam pandangan kita yang buram

sambil terus meyakini: pagi-pagi tetap akan menjelma halaman
dimana kau menari dengan bunga di tangan.

Jakarta, 14 Oktober 1997

Memo Musim (3)

Inilah ujian, katamu. Mewarnai kegembiraan kemarin
kau pun mengamit kabut membawa tidur dan menjadi mimpi-mimpi indah
yang selalu kau sematkan dalam hatiku setiap berangkat kerja
“ini adalah kebahagiaan yang tertunda,” begitu selalu katamu.

Lalu aku pamit, dan pulang dengan tangan yang berdebu
bersama malam yang berkabut
“Perjalanan adalah kesabaran yang selalu harus kita ikhlaskan.”
Kau pun menyelam di dadaku, sambil menghitung detak jantungku

“Perjalanan adalah ketekunan, doa serta puja-puji bagi-Nya.”

Jakarta, 14 Oktober 1997
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Memo Musim
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Peristiwa Tsunami

Post A Comment:

0 comments: