Memolita Pantai

Mungkin sore itulah terakhir kita menelusuri pantai itu
berangkat dari dermaga ketika matahari akan terbenam
ada hawa aneh: adakah kau lihat sebatang pohon tumbuh
di langit?

Kita kemalaman sampai di rumah. Entah berapa mil,
jarak yang tidak singkat, kita habiskan sekali pandang
malam makin membuat kita lupa
dan tergoda

Setelah itu kita memilin waktu, sambil menyaksikan laut
yang terpenjara, mengais-ngais cinta dalam tidur
ada pulau yang terbelah, laut segera membentang
milik siapakah?

Dan kini, kita hanya menyaksikan perjalanan itu
dalam buku-buku bisu, tak ada lagi yang bercakap-cakap
apalagi bersenda gurau
di luar ada yang menangis, hidup siapakah yang berakhir

Kabut berarak, dan pantai itu menjadi gaib
tempat cinta menjadi batu nisan, dingin dan gelisah
bersama air mata yang terus memancur
menjadi sungai dalam hati kita.

Lhokseumawe
1996 - Jakarta 2002
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Memolita Pantai
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Bertema Tsunami
Loading...

Post A Comment:

0 comments: