Bisnis

header ads

Puisi: Menganyam Pita Suara Menjadi Kaligrafi Zikir

Menganyam Pita Suara Menjadi Kaligrafi Zikir
(Rinduku buat: D. Zawawi Imran)

Telah sekian sejuk air fardu membeku
menempel kemilau di jeruji waktu
tak terhitung derit daun pintu membuka kelopak kuba cahaya
memancarkan jejak suci, menyebar wangi surga-Mu
mengibas kepak sujud, menumpah rindu putih jernih
merebut ruang pesona-Mu, merakit sarang di ranting iman
melisan aksara firman-Mu yang tak pernah berpaling
dari titah tahta langit ke tujuh

Telah sekian gelembung cermin dai dan kiai pecah di udara
saat mengetuk pintu benak hati, menyolek molek warna sukma
memoles raut wajah batin, membatinkan keyakinan
serta memfasihkan gerak lidah melafazkan ejaan tauhid
menganyam pita suara menjadi kaligrafi zikir
di kampas nurani, sebelum buah iman gugur
ke rahang kegelapan, sebelum pantulan Nur Ilahi
menjauh dari kening hening sujud
dan sebelum kita tersingkir dari halaman firdaus

Telah sekian jasad fana lepas tangkai tanpa maklumat
terbujur dalam penantian panjang di liang genggaman-Mu
dipahat tangan-tangan halus malaikat, melebur tanah liat
menjadi adonan bubur susu atau menjadi bara merah tembaga
tempat bermula tudingan tanya dan interogasi
sebelum melewati titian gerbang taman mekar bunga.

Sumbawa, 2002
Puisi A. Rahim Eltara
Puisi: Menganyam Pita Suara Menjadi Kaligrafi Zikir
Karya: A. Rahim Eltara

Baca juga: Kumpulan Puisi Nembak Sahabat

Posting Komentar

0 Komentar