Pembicaraan Terakhir Kita
(Ahmad)

Tersebutlah engkau: lidah api yang mencari air.
Lelah panas menerabas tubuh waktu. Kendatipun terbakar,
kita takdir yang tak mudah terbang
umpama seekor burung pulang ke sarangnya.
“Aku adalah pohon yang
didatangi kabar duka,  mobil mengapung dalam mata,
dan debu-debu menempel di tubuh keheningan.
Juga angin, yang sibuk merapal banyak doa.”
Tegaklah. Seperti aku memuja
kehidupan dan kematian.
Teluh yang diterbangkan dari negeri jauh,
telah rupanya menghancurkan segenap kota.
Tapi demi apapun, kita adalah dua firman
yang lahir untuk mengukur, sejauh mana
sanggup menakar kepergian, yang dibawa
dengan arak-arak dahsyat gelombang.

Puisi: Pembicaraan Terakhir Kita
Puisi: Pembicaraan Terakhir Kita
Karya: Pilo Poly

Baca juga: Kumpulan Puisi Populer di Indonesia

Post A Comment:

0 comments: