Ruang Vakum
(- kepada penyair Aceh)

Kita tulis lagi kata-kata itu, pahit dan bercela, di malam
yang sakit: seorang lelaki yang tertembak atau perempuan
kehilangan mahkota, menangis di kegelapan

Kita tanam kamboja di setiap langkah dan memetiknya
setiap melihat darah: puisi menjadi teriakan kosong ketika
orang-orang tak lagi mengenal kata-kata

Kita bergerak dari ruang vakum satu ke ruang vakum lain,
kata seseorang dalam e-mailnya: memetik buah tak pernah
matang, menamam pohon tak pernah rindang

Kata-kata menjadi poster, pamflet, juga tangisan
ia tidak pernah lagi menjadi puisi: angin sepoi basah
mempermainkan anak-anak rambut kita di pinggir kolam.

Depok
1 Februari 2003
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Ruang Vakum
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Tsunami dan Gempa

Post A Comment:

0 comments: