Sigli, Suatu Ketika

Apakah perlu kutulis semuanya
keterharuan membaca bibir langit menjeritkan
sejumlah luka
air mataku tampaknya tidak pernah cukup untuk
menina-bobokanmu dalam jaman ini
apalagi mengajakmu lari dari kenyataan yang sakit
hari-hari tetap saja kegelapan
hari-hari tetap juga kebahagiaan orang lain

Kita belajar menulis dan membaca
untuk memahami makna dari segala keperihan
jam kerja dan kesibukan kita tulis
dengan pesona air mata, dengan kesabaran yang kita eja

Ketika kau bercerita bahwa langit adalah kekeringan
aku telah duluan paham akan panasnya perjalanan
tiap hari harus kita tempuh
sementara hujan tak lain sebuah impian yang kerap
berakhir dengan kekosongan
maka doa-doa menjadi penghibur abadi episode ini.

18 Agustus 1996
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Sigli, Suatu Ketika
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Bencana Alam Banjir

Post A Comment:

0 comments: