Suu Kyi

kau tentu masih ingat: senapan yang moncongnya
bersitatap dengan matamu, seperti berebut mana yang lebih tajam
dan berbisa, mana yang lebih binasa

“aku adalah ibu yang rindu pulang merawat anak-anak
yang kakinya telanjang – di kamp-kamp pengungsian dan kota-kota,
ruang-ruang yang terbakar oleh matamu yang jalang!”

seluruh jagad raya mengirim ababilnya untuk meruntuhkan
tembok dan jeruji penjara karena kau rindu dapur:
betapa lezatnya laphet thohk, nga htamin, atau mohinga *

dan di depan gerbang rumahmu, kala itu,
kau menabuh hsaing waing ** sampai langit bergetar:
menasbihkan bumi yang bebas dari luka dan keperihan

kau menjadi merpati putih dengan bulu-bulu lembut
turun dalam mimpi anak-anak yang terpuruk di tanahnya,
di langit yang terus digelayut kabut

tapi suu kyi, kini, merpati itu menjelma elang yang memangsa
anak-anaknya sendiri, meredupkan cahaya di langit biru,
dan dada menjadi begitu membatu

kau tak mungkin tak tahu: senapan yang moncongnya
menggonggong di rakhine, sambil membayangkan wajahmu
yang teduh dan ayu, menghanguskan jejak-jejak mereka

Jakarta, 26 Oktober 2017


*) Makanan khas Myanmar
**) Musik ansambel tradisional Myanmar yang menggunakan sejumlah gong dan drum serta berbagai alat musik lainnya.
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Suu Kyi
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Bebas Untuk Guru

Post A Comment:

0 comments: