Titik Nol

Mungkin, ini adalah titik nol, saat pertama kita
bercakap-cakap tanpa kegembiraan, penuh air mata,
juga bayangan cuaca yang gelap, dan kita ngeri
melihat langit terbentang dengan isak tak tertahankan
itu bukan pertanda buruk, dan hujan kembali membakar wajahmu

Aku hanya bisa menarik nafas melihatmu menarik garis lurus ke udara
seperti menggambar kehidupan dengan cita-cita yang tersendat
kita harus mulai, kataku, dan lupakan segala debar yang
sepanjang pagi membangunkan tidurmu
dengan matahari yang tak kunjung muncul
meskipun pagi lama pamit entah ke mana

Satu lagi yang ingin kukatakan padamu: hidup perlu warna,
dan kita sedang melukiskan hidup itu, berangkat dari titik nol.

Jakarta
5 Agustus 2000
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Titik Nol
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Rindu Saat Hujan Turun

Post A Comment:

0 comments: