Transe

Baris-baris angin menyusup dalam keterasingan kita, apalagi yang direnungkan
setelah gelombang demi gelombang pecah di haribaan pagi
kesetiaan jadi bisu sendiri
tanpa punya arti sedikitpun untuk jadi catatan di kemudian hari
lalu kita kembali memoles senja dengan berjuta kenangan
untuk sekedar mengingat-ingat
bahwa kita pernah menjalin cinta dalam kenikmatan semu
atau inikah isyarat laut dalam kelindapan daun malam
dermaga bisu dan suit angin di layar-layar tinggi?

Baris-baris angin menyusup dalam keterasingan kita, apalagi yang direnungkan
cakrawala biru luas menjamah kaki langit
yang menampung jutaan resah, menguapkan jutaan harapan dalam
kedewasaan yang diam-diam rapuh?
menunggu, berarti menerima setiap kemungkinan
dan apa saja kesempatan, kesempurnaan ataupun rahasia
sinyal gerak yang mengaburkan makna nurani

Baris-baris angin riuh menyusup juga dalam keterasingan kita
menggigil sampai ke dasar paling dalam
atau cuma nyanyian mimpi, nikmat menjumpai-Mu
dalam pertemuan yang teramat singkat?

Lamreung, Meunasah Papeun
November, 1993
Puisi: Transe
Puisi: Transe
Karya: Doel CP Allisah

Baca juga: Kumpulan Artikel tentang Rumah dan Properti

Post A Comment:

0 comments: