Elegi Lut Tawar

Dari Singahmata kupandang
Air biru dalam cekungan
Lut Tawar-lah namamu
Mengalir hingga ke hilir nikmat mana kau dustakan lagi

Lut Tawar tidak tawar lagi
Air hijau kini bercampur coklat dan hitam
Wadah limbah dan sampah
Enggan orang-orang jejakan diri
Julukan tujuan wisata menghambar sudah

Hulu bersih, di hilir bercampur luka dan darah

Timbunan tanah siapa berumah
Kemana tanggungjawab yang katanya bertanggungjawab
Mengkampanyekan Lut Tawar dalam orasi politiknya
Apa sudah terbayar dengan sepetak tanah
Hingga diam merasuki ruang sidang
Lupa dengan saksi menyimpan seribu sejarah

Lut Tawar mulai kering
Kemana air-air selama ini melimpah
Ikan-ikan kecil mulai punah dimakan racun
Ikan-ikan besar mulai menghilang ditelan aliran listrik
Apalagi yang dapat diharapkan

Lut Tawar

Kini seperti kopi hitam yang hilang pahitnya.

Takengon, 2016
Puisi: Elegi Lut Tawar
Puisi: Elegi Lut Tawar
Karya: Ansar Salihin

Baca juga: Kumpulan Puisi Kemacetan Jakarta

Post A Comment:

0 comments: